It’s About Skripsi [Selesai Bab 1] ~repost

mau cerita.ย 

Alhamdulillah setelah lewat bab 1 kemarin skripsi jadi lebih mudah. Yang awalnya masih tak bisa dibayangkan, setelah lewat seminar proposal bulan lalu jadi bisa dibayangkan. Memang benar, di Komunikasi bab 1 terkenal sangat-sangat lama. Sejak judul lalu masuk rapat proposal, lalu Bab 1 bisa berbulan-bulan sejak judul fix (belum termasuk ganti-ganti judul). Bab 1 selesai, lalu menunggu lagi untuk seminar proposal. Nah, seminar proposal ini seperti final bab 1, namun biasanya tetap akan ada revisi. Kabar simpang siurnya, motivasi dari dosen juga, kalau sudah lewat bab 1 lancar sudah bab-bab selanjutnya. Aamiin.

Yang awalnya masih tak bisa dibayangkan, setelah lewat seminar proposal jadi bisa dibayangkan.

Bener! jadi, intinya skripsi itu kalau sudah bisa dibayangkan sampai akhir, bisa dikerjakan. Intinya, ada tujuan yang bisa dikejar. Ada hasil akhir yang ingin diraih. Kebayang kan kalau tujuan belum ada, ya di bab 1 itulah proses pencarian tujuan.ย Skripsiku tentang wanita salafi yang mengakses media. So simple! hehe… Seru juga dan lumayan menikmati tema ini. Proses meraih judul ini yang tak mudah, tapi jadi dirasa mudah sekarang. Alhamdulillaah.

Lama sekali?ย 

Saya juga suka pertanyaan ini. Pertanyaan yang terkadang memotivasi sekali. Pertanyaan yang selalu timbul dalam hati, hehe. Namun jika ada orang yang berkomentar seperti itu, tidak juga berkecil hati, tidaklah mengapa. Mengapa? Tak apa. Biarlah orang-orang berkomentar apa, tentu kita yang menjalani dan tau mengapa kita menjadi seperti yang saat ini kita pilih. Setiap orang, punya alasan. Kita tidak pernah akan tau sampai kita bertanya, bukan? Apakah bisa kita hanya berandai-andai? Tak kan pernah tau sampai kita butuh untuk ingin tahu. Dan mungkin saja, sesuatu yang terlihat tidak baik, sejatinya baik. Dan sesuatu yang terlihat baik, sejatinya tak baik. Maka, dengan bertanya akan membuka semuanya. Bahkan dari satu pertanyaan, muncullah penelitian, yang akhirnya jadi sebuah karya skripsi tebal. Tetapi terkadang, tidak semua orang ingin mengetahui, sehingga tidak semua orang akan bertanya tentang alasan-alasan yang kita pilih. Bagi orang-orang, tiada guna proses yang kita jalani, padahal itulah yang terpenting bagi tiap individu. Siapapun mereka. Maka, tips juga, kalau mau mendekati orang / masyarakat, atau ingin kenal dekat, tanyalah proses-proses hidupnya, karena itu lebih dekat kepada dirinya, dan akan lebih cenderung suka untuk bercerita.

Jadi, tidak akan ada yang peduli tentang skripsi kita hehehe, namun di luar sana akan banyak yang peduli tentang waktu kelulusan kita. Cambuk pribadi ๐Ÿ™‚ Akan kau ke manakan lagi saudara-saudara yang bertanya,ย “sudah lulus?”. Wah tidak siap lagi ah jawab belum, maunya jawab sudah saja ๐Ÿ™‚ย 

2 Mar 2014

Iklan

It’s About Skripsi [Tak Semua Bisa Sesuai Rencana] ~repost

Mengerjakan skripsi adalah hal yang mudah, setidaknya bagiku. Namun, ada kondisi di mana semuanya berjalan sangat lambat. Pekan lalu dosen ada urusan di luar kota, sehingga belum bisa mengoreksi. Pekan ini (sudah terlewat sepekan), namun masih progress koreksi. Sepekan, bagiku, waktu yang sangat panjang. Sedih sekali terlewat sepekan, yang bagiku, sangat berarti. Namun, ini pasti di luar kuasa kita sebagai manusia. Faktor external yang tidak bisa kita utak-atik, di luar kuasa kita. Pada saat-saat seperti itu, doa adalah satu-satunya jalan.

Skripsi ini juga, dari tahun lalu berjalan sangat lambat. Sempat ganti judul dua kali, lalu ganti konsentrasi dari strategis jadi media, padahal konsentrasiku strategis, makin melambat. Aku paham strategis, sangat. Tapi media, berarti harus membaca ulang dan memahami dari sudut pandang baru. Aku pun bingung, mengapa? Apa aku se-tidak-bisa itu? Tapi aku yakin bahwa skripsi bukan soal kecerdasan. Ini soal kerajinan yang ditambah ‘takdir’. Takdir dapat tema seperti apa, takdir dapat metode seperti apa, takdir dapet dosen seperti apa, juga takdir tak terbayangkan mengenai lika-liku seperti apa yang dihadapi.

Misalnya saja, pernah suatu hari, sebut saja mas B, ia adalah satu-satunya asisten dan paling dicari di jurusan #orangpenting. (ctt: di jurusan komunikasi semua dipanggil mas dan mbak, meski sudah ibu-ibu dan bapak-bapak. always young! :D). Setelah menge-print di lantai satu yang disuruh oleh mas B sebagai kelengkapan berkas, pas kembali ke lantai empat ternyata oh ternyata, beliau sudah keluar kampus dan izin, blup! menghilang. hehe. Padahal, deadline kurang dari 20 menit, ditunggu 1 jam tapi tak ada tanda-tanda. Nah kalau sudah seperti ini di luar kuasa. Mulailah mengatung-ngatung, dan berharap.

Banyak hal, di luar kuasa. Kalau sudah seperti itu, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali positive thinking. Mungkin ini yang terbaik, dan memang yang terbaik. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi, bukan?

Halo, sudah satu tahun, dan alhamdulillah progress sudah mudah karena bab 1 sudah terlewati, yang artinya semua bisa dijalani. Bab 2, 3, 4 sama-sama dicicil, namun tentu tak mungkin tak ada kendala yang dihadapi. Semua butuh proses untuk menyelesaikannya, dan sangat berharap mbak dosenku as my partner, satu-satunya orang yang saat ini bekerja sama denganku pada proses skripsi ini, membantuku. Sebenernya gak satu juga sih, namun dia adalah pembimbing, sekaligus orang yang mengerti seluk beluk skripsinya. Ia sibuk, tapi bukan berarti ia mengabaikan. Itu yang harus dipercaya mahasiswa pada dosennya.

Well, pada akhirnya skripsi tetap akan selesai, apapun jalannya. Kemudahan itu dari Allah, mungkin doa yang kurang sehingga Allah belum mengabulkan, atau memang yang terbaik adalah yang demikian. Jadi, tidak ada yang buruk dalam perkara ini..

Well kayaknya mood sedih ya? Enggak juga, eh tapi iya ๐Ÿ˜€ tapi enggak kok! #halah :p

Postingan ini mungkin hanya berarti bagi teman-teman yang ingin tau soal skripsi ya, hmm tapi tidak juga sih. Bahwa mungkin saja (dalam moment-moment hidup Anda) banyak hal di luar kuasa Anda yang terjadi, yang oleh sebab hal tersebut terjadi, tidak Anda ketahui ada jalan-jalan lain yang terbuka untuk kehidupan Anda yang telah Allah tetapkan, yang hakikatnya adalah kebaikan untuk diri Anda dan orang-orang di sekitar Anda. So increase your effort, do it nice, optimist! ๐Ÿ™‚

27 feb 2014

Gambar

Waktu Habis Satu Al-Qur’an

Suatu hari dalam suatu obrolan dengan Ama (nenek),

Ama: Rin, kau kalo baca alQur’an habis berapa lama?
Aku: …. terdiam
Ama: Ama itu habisnya dua setengah bulan Rin, itu kelamaan ya?
Aku: masya Allah. Nggak lama Ama, itu udah bagus banget. Itu termasuk cepet Ama. Kalau mau lebih cepat lagi ya bisa juga.

Jadi, siang itu sebenernya obrolan biasa aja. Tapi obrolan Ama bikin cucunya ini malu, betapa Ama dengan gigihnya menghabiskan AlQur’an, meski ia tahu akan lama banget habisnya, yaitu tadi dua setengah bulan. Seingatku, dulu Ama pernah tanya juga “apa gak apa2 Rin kalau satu AlQur’an habisnya 3 bulan? Apa boleh?” Subhanallah, aku bingung jawabnya. Salut tentu saja, dan miris rasa tak sanggup jawab pertanyaan itu. Dan sekarang dua setengah bulan, kemajuan lagi dari tiga bulan, maka aku bilang -tadi- termasuk cepat.

Yang aku miriskan, orang seperti Ama yang dua setengah bulan habis membaca AlQur’an dengan kemampuan maksimalnya, sedang aku atau siapa saja mungkin diberi kemampuan untuk sanggup membaca AlQur’an dua setengah bulan bahkan kurang dari itu TAPI TIDAK MELAKUKANNYA (di atas segala kekuatan dan kemampuan, sementara Ama di atas segala kelemahan dan keterbatasan -karena usianya-).

Semoga Allah melindungi Ama dari segala keburukan, mohon doanya semoga Allah selalu menjaga Ama (nenekku). Semoga ini jadi pahala Ama karena sudah memotivasi kita di sini untuk membaca Al-Qur’an. ๐Ÿ™‚