Bacalah Al-Qur’an

Terdapat hikmah yang indah dari perkataan al-Ajuri rahimahullah,

“Barang siapa yang merenungi firman-Nya maka ia akan mengenal Rabbnya, akan mengetahui keutamaannya dibandingkan orang orang mukmin yang lain, dia akan menyadari kewajibannya dalam beribadah hingga senantiasa berusaha untuk menjaga kewajiban tersebut. Ia akan berhati-hati terhadap apa yang dilarang Rabb-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya. Barang siapa yang memiliki sifat yang demikian, ketika membaca al-Qur’an dan ketika mendengarkanya, maka Al-Qur’an akan menjadi penawar hatinya, ia akan merasa cukup tanpa harta, mulia tanpa kesulitan, lembut dalam menyikapi orang yang kasar padanya.

Orang yang memiliki sifat demikian, ketika ia memulai membaca sebuah surat yang tergambar dibenaknya adalah sejauh mana dia dapat mengambil pelajaran terhadap yang dia baca. Tujuannya membaca Al-Qur’an tidak semata-mata untuk mengkhatamkannya akan tetapi seberapa besar ia dapat memahami perintah Alloh dan mengambil pelajaran darinya. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah maka tidaklah pantas membacanya dengan hati yang kosong lagi lalai, dan Allah Ta’ala maha memberi taufik terhadap yang demikian.”

Dikutip dari http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/luangkan-waktumu-untuk-membaca-al-quran.html

Dan Bermekarlah Kuncup Bunga Iman

Para lelaki Islam menuju masjid di teriknya panas atau di subuh gelap nan dingin untuk tunaikan kewajiban shalat 5 waktu. Jika engkau melihatnya pintalah Allah agar jadikan mereka sahabat.

Melirihkan do’a berjalan menuju masjid ada ketenangan hati ikuti sunnah nabi.

Nyaman sekali melihat lelaki bertimpah ruah di jalan menuju rumah Allah tunaikan lima waktu, tak hanya jum’at sekali seminggu

Ini menunjukkan persatuan dan ukhuwah yang saling menyemangatkan dan menjadikan jiwa kokoh terjaga dan penuh ‘azzam.

Saling berjumpa di masjid bertatap wajah saudara se-aqidah seiman. Lalu tangan saling berjabat gugurkan dosa yang telah lalu. Saling membuahkan pahala dengan senyum yang saling mengadu.

Bagi yang belum berwudhu, ramai saling menunggu.

Ada do’a terucapkan ketika kaki kanan masuki rumah Allah.

Ramai nian para jama’ah menunggu iqamah. Ada yang shalat Tahiyyat al-Masjid, ada pula yang berdo’a dan ringan bertilawah

Allahu Akbar, sang imam takbir pertanda shalat bermula. Terserantak makmum mengikuti.

Begitu pula anak-anak yang imutnya pula ikut berdiri walau tak ia mengerti. Ia pakaikan sarung dan peci ala pak haji. Syahdu sekali nuansa ini. Semuanya menghadap Allah Rabb al-izzati penuh khsuyu’ berdiri.

***

Jika pada selain dzhuhur dan ashar, nyaman sekali suara imam terdengar bacakan surat atau ayat-ayat terpilih. Suaranya menawan nyamankan raga apalagi jiwa.

Jika terbaca surat atau ayat tentang surga, ada harap dan pinta kepada Allah agar kita dimasukkan ke jannah-Nya untuk kelak tatap abadi wajah-Nya yang mulia.

>>Berjumpa Wajah Rabb Alam Semesta

Perjumpaan dengan wajah-Nya, itulah perjumpaan yang hakiki dan benar-benar merupakan puncak segala kenikmatan. Itulah perjumpaan yang membuat jiwa berdecak kagum karena begitu terpesona. Itu semuanya akan dihadiahkan bagi semua penduduk Surga yang dahulunya setia di jalan keimanan.

Wajah orang-orang yang beriman akan berseri-seri melihat Tuhan mereka.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”[1]

Ada sebuah hadits yang merekam keadaan penduduk Surga saat merasakan nikmat dan sedapnya memandang wajah Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“jika penduduk Surga sudah masuk Surga dan penduduk Neraka sudah masuk Neraka, maka sang penyeru memanggil:

‘Wahai penduduk Surga! Sesungguhnya Allah mempunyai janji kepada kalian yang sekarang hendak Dia penuhi’.

Para penghuni Surga menjawab:

‘Apakah itu? Bukankah Dia sudah memberatkan timbangan amal kami? Memberi sinar putih pada wajah kami? Memasukkan kami dalam Surga dan mengeluarkan kami dari Neraka’.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Maka hijab disingkap, mereka pun memandang-Nya. Demi Allah! Tidaklah Allah memberikan sesuatu kepada mereka yang paling mereka sukai dan paling menyedapkan pandangan mata mereka daripada memandang-Nya.”[2]
Bata surga itu terbuat dari perak dan sebagian lagi dari emas. Pun, adukan semennya adalah campuran kesturi yang sangat harum. Mutiara dan berlian adalah batu kerikilnya.

Pernah suatu ketika Rasulullah menjawab pertanyaan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang bangunan Surga dengan berkata:

“…batanya ada yang terbuat dari perak dan ada yang terbuat dari emas. Adukan semennya adalah kesturi yang sangat harum. Batu kerikilnya mutiara dan berlian. Dan tanahnya adalah za’faran. Barang siapa memasukinya ia pasti [akan] mendapat kelezatan [tiada tara] dan tidak sengsara…”[3]

Disana, ada mata air Tasnim salah satunya. Ia minuman terbaik penduduk Surga.[4]

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air.”[5]

“Di dalam kedua Surga itu ada dua buah mata air yang mengalir.”[6]

“Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim, (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.”[7]
****

Jika tentang neraka yang terbaca, maka terpinta lisan agar kita terjauhkan dari semburan dahsyat kobarannya.

Pernah suatu ketika Manshur bin Ammar berbincang-bincang di Masjidil Haram mengenai suatu tema maka Fudhail bin Iyadh menjerit begitu keras hingga pingsan karena teringat tentang Neraka.

Uwais al-Qarni pernah berdiri di tempat tukang besi lalu memperhatikan tukang besi meniup ubupan api. Terdengarlah suara api. Maka spontan Uwais menjerit lalu pingsan karena ingat dan terstimulus akan semburan api Neraka.

Atha’ as-Salimi pernah melewati seorang anak kecil yang membawa obor. Lalu obor tersebut tertiup angin. Saat mendengar suaranya, maka atha’ jatuh pingsan karena mengingat suara semburan dahsyat di Neraka.

Ada seorang pemuda dari anshar yang hatinya dirasuki rasa takut pada Neraka. Ketika dia duduk di rumah, Nabipun mendatanginya, maka dia berdiri menghampiri beliau dan segera memeluknya. Tiba-tiba laki-laki itu menjerit histeris, lalu meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi sawallam menyuruh sahabat mempersiapkan jenazahnya.

Pembicaraan tentang Neraka sungguh membuat mereka pingsan, tubuh mereka bergetar hebat, tidak bisa tidur bahkan Aisyah pun menangis ketika mengingat siksa Neraka. Lebih-lebih lelaki anshar tadi detak jantungya berhenti karena takutnya akan Neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika membaca ayat-ayat tentang Neraka maka beliau akan berlindung kepada Allah agar benar-benar dijauhkan dari Neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdo’a:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari panasnya Jahannam.”[8]

Demikian pula para nabi yang lain, para syhuhada dan orang-orang shalih senantiasa takut terhadap Neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang shalih senantiasa takut terhadap Neraka dan [mereka] menakut-menakuti [guna memperingatkan] (orang lain) terhadap Neraka.”[9]

***

Mataram, 16 Jumadaa al-Uula 1434 H/ 28 Maret 2013 M

________
End Notes:
[1] QS. al-Qiyamah: 22-23
[2] HR an-Nasa’i no. 11234. At-Thahawi menegaskan bahwa memandang Allah adalah haq (benar adanya) bagi para penduduk Surga. Lihat keterangan ini dalam kitab Jinaan Al-Khuld Na ‘Iimuha Wa Qushuuruha Wa Huuruha karya Syaikh Mahir Ahmad
[3] Potongan hadits riwayat. at-Tirmidzi, no. 2717 dan Ahmad, no.8264. Lihat Jinaan Al-Khuld Na ‘Iimuha Wa Qushuuruha Wa Huuruha. (edisi terjemahan) oleh Syaikh Mahir Ahmad, penebit Sukses Publishing, hal.269-270.
[4] Silahkan membaca penjelasan tentang mata air Surga dan kenikmatan lainnya dalam ibid, hal. 291-297.
[5] QS al-Mursalat: 41.
[6] QS ar-Rahman: 50.
[7] QS al-Muthaffifin 27-28.
[8] Hadits shahih dalam Sunan an-Nasa’i (VIII/278-279). Lihat Jami’ al-Ushul (2381)
[9] HR al-Bukhari

Dari facebook Fachriy Aboe Syazwiena