Sekolahnya Belajar

Barusan baca berita lewat di twitter, penasaran karena judulnya. Segitunya kah sekolah melarang anak-anak yang punya kelainan ikut hadir di acara dari pihak sekolah? Ini beritanya di sini. Yah nggak heran juga sih karena beritanya dari luar negeri. Kejadian-kejadian seperti itu wajar terjadi di lingkungan seperti yang diceritakan di dalam berita, lingkungan orang tua yang bermasalah dan sekolah yang tidak mengerti murid-muridnya, dan yang paling penting berasal dari lingkungan yang: tak dibimbing oleh Islam. Jadi nggak terlalu heran ada kisah tragis seperti itu.

Bukan itu inti tulisan kali ini. Namun, berita itu menerjunkan pikiranku ke pendidikan yang udah aku lalui selama 18 tahun ini. Wah angka yang banyak untuk jumlah bilangan tahun ya… Dan melihat angka itu, subhanallah… sebenarnya agak miris dengan pendidikan formal Indonesia. Karena sekolah saya adalah sekolah negeri dari TK hingga SMA. Memang membanggakan sekolah di sekolah unggulan, yang menjadikan siswanya unggul dari segi nilai… tapi memang tak cukup unggul dari segi akhlak dan agama, yang sudah mencakup moral juga. Atau dari sisi psikologis yang tidak dibina di sekolah negeri. Memang ada bimbingan konseling, tapi bimbingan konseling saja belum cukup saat itu bagi kami.

Melihat itu semua, sungguh semakin yakin bahwa tak ada sekolah yang lebih baik selain pembinaan dari kedua orang tua semasa di rumah. Rumah jadi sangat penting bagi anak-anak untuk belajar. Jika saat besar anak tersebut ingin belajar ke tempat lain, segala pengalaman belajar di rumah adalah bekalnya. Nilai-nilai akhlak yang didapatkan dari orang tuanya adalah yang ia bawa menuju tempat lain di mana dia belajar. Sungguh indah jika bisa menerapkan pembelajaran yang baik untuk anak-anak kelak.

Seminggu dan Sebulan

Bismillah ^^

Alhamdulillah, ketika menulis tulisan ini, saya sedang berada di rumah. Tepat 18 Juli 2014 berpisah dengan jogja, tempat beberapa tahun ini menimba ilmu, dan pada sidang yang berlangsung tanggal 24 Juni 2014 kemarin, akhirnya saya dinyatakan lulus ūüôā Meskipun jogja sangat dekat di hati, menyimpan banyak semangat yang sulit tergantikan, tetaplah… berada di rumah, sebuah momen yang begitu dinantikan. Ada papa, mama, dekat dengan abang, kakak ipar, adik.. mereka adalah kebahagiaan dan juga tempat untuk sama-sama saling bantu membantu (yang semoga selalu) dalam kebaikan. Cinta yang selalu ada, diberikan Allah Ta’ala di dalam sebuah keluarga.

Begitulah, seminggu sudah berada di rumah, ada bagian hati yang sepertinya tiba-tiba kosong, luput, atau pergi dengan cepat. Suasana di wisma yang selalu bikin kangen, kehangatan suasana wisma, yang tiba-tiba hilang sepertinya, sesuatu yang sudah biasa dan kini digantikan, dengan gaya hidup yang berbeda yang memerlukan pembiasaan lagi, dsb. Perubahan situasi yang menuntut adaptasi lagi. Ya, ada sesuatu yang sepertinya tak kembali, saat-saat yang mungkin sewaktu di wisma dianggap biasa saja, sekarang terasa begitu istimewa. Dulu, kepulangan ke rumah selalu diikuti rindu yang terbalas dengan kembali ke wisma. Merasa lega lagi.. Dan kini, tak ada tempat kembali pulang selain rumah.

Seminggu rasa sebulan…

Baru seminggu memang, tapi banyak sekali¬†hal yang berubah. Yang paling menonjol adalah tak ada teman-teman yang selalu mengingatkan. Teman-teman yang dengan melihatnya saja diri ini senantiasa merasa diingatkan, sebelum ucapan dikeluarkan dari lisan mereka. Itulah rindu yang belum terbayarkan. Baru seminggu, tapi sudah kehilangan mereka lama sekali sepertinya…

Yang selalu dirindukan adalah teman yang…
Teman yang dia senantiasa menjaga shalat tepat pada waktunya…
Teman yang dia ketika aku berpapasan dengannya, basah anggota wudhunya..
Yang tak segan memanggil mengingatkan untuk shalat berjama’ah..
Yang tak segan duduk menunggu teman untuk shalat…
Teman yang suka mengingatkan untuk berangkat kajian atau
mengetuk pintu kamar untuk membangunkan shalat…
Teman yang saling membantu untuk ketaatan…
Teman yang tak rela aurat teman lainnya terlihat, senantiasa saling mengingatkan dan menjaga…
Teman yang tersenyum di kala tidak ada alasan apapun selain saling bertemu…
Teman yang takut dengan Allah, mengingatkan untuk membaca dan menghafal Al-Qur’an..
mengingatkan untuk menghafal do’a dan hadits pilihan…
Teman yang menebar salam…menjawab salam..
Teman yang ridha dengan segala bentuk kita, asalkan kita tetap berpegang teguh di atas sunnah…
Dan berpaling dari kita ketika kita tak mau mengikuti sunnah…. meskipun dunia datang sebesar apapun di hadapan mata dengan nyata…
Meskipun begitu, aku tak pernah bilang bahwa mereka sempurna… Pasti ada sesuatu yang kurang atau kesalahan. Namun, itu hanyalah bagian yang kami saling tahu masing-masing yang tidak diceritakan. Namanya manusia, berbeda rasa dan asa. Karena itu, yang demikian¬†pasti saja terjadi.

Lingkungan dan istiqomah…
Itulah kuncinya..
Dua hal yang sulit.. namun bukan mustahil…
Semoga Allah kelak berikan lingkungan yang menjaga ketaatan, serta keistiqomahan…¬†

 

Obat dari Cinta Buta

Saya ingin memberi tahu satu rahasia obat dari cinta buta..

Ya rahasia, jangan beritahu siapa-siapa.

Karena kalau semua orang tau, maka ini akan menjadi keumuman dan semua orang akan bergerak melesat jauh menuju kesuksesan.

Saya beritahu ya… tidaklah kita berdiam diri atau berada dalam suatu keadaan yang membuat kita tidak mau bergerak (baca: gak move on) kecuali cinta buta.

Cinta pada sesuatu yang tidak benar atau sudah kita ketahui tidak benar. Cinta pada makanan (yang padahal sudah tau makanan tersebut tidak baik bagi kesehatan), cinta pada manusia yang tidak tepat (yang padahal sudah tau kalau tidak ada cinta kecuali pernikahan), cinta pada malas-malasan (yang padahal sudah tau malas itu tidak baik). Semua termasuk cinta buta. Kesukaan pada sesuatu yang sudah kita tau banyak salahnya.

Rahasianya adalah..

cita-cita tinggi

Tak ada obat lebih mujarab lebih dari ini. Bercita-citalah yang tinggi. Karena, orang yang bercita-cita tinggi tidak akan rela dan tidak akan tahan dengan sesuatu yang lebih rendah dari cita-citanya. Sehingga, dia akan belajar untuk tidak mencintai tanpa sebab yang benar (cinta buta). Orang yang telah kita ketahui sedang berada dalam cinta buta, berarti dia belumlah memiliki cita-cita yang tinggi, Karena dia rela dengan keadaannya yang sekarang ini dan tidak melihat pada kenyataan yang ada.

Maka jika kita masih malas-malasan belajar, berarti kita masih cinta buta, gak bisa move on, suka dengan keadaan yang rendah padahal tau keadaan yang tinggi lebih indah, berarti…belumlah cita-cita tinggi itu kita genggam.

Referensi Baca:

Abul Faraj Abdurrahman bin al-Jauzi. 2010. Shaidul Khathir (judul Asli: Mukhtasar Shaid al-Khatir). Jakarta: Darul Haq