Orang bijak berkata, “Ada empat hal yang kita cari tetapi kita telah salah jalan dalam mencarinya, kita mencari kekayaan dalam harta padahal dia ada di dalam qana’ah, kita mencari ketenangan dalam banyak harta padahal dia ada di dalam sedikit harta, kita mencari kemuliaan di hadapan makhluk padahal dia ada di dalam ketakwaan, dan kita mencari kenikmatan dalam makanan dan pakaian, padahal dia ada di dalam kemuliaan dan Islam.”

Tanbiihul Ghaafiliin, hal. 128

Dari buku “Menyikapi Kehidupan Dunia: Negeri Ujian Penuh Cobaan” Karya Abdul Malik bin Dinar Muhammad al-Qasim. Pustaka Ibnu Katsir.

 

Finally, It’s Done :)

49e484bdb3b73115bcc97ca348e7cc41Alhamdulillah… rasa syukur yang aku hanya bisa rasakan saat ini, telah berhasil melewati serangkaian proses panjang menuju sebuah momen kelulusan. Meskipun belum resmi karena belum wisuda. Namun, amat bahagia bisa rasakan dan lihat kata ‘lulus’ di selembar bukti telah mengikuti sidang hari ini (24 Juni 2014).

Aku berangkat lebih awal, sekitar satu setengah jam dari jadwal sidang. Hal tersebut kulakukan agar persiapan tidak terburu-buru, atau adanya prosedur yang belum aku lewati untuk maju ke meja sidang, ataupun untuk mengantisipasi perubahan jadwal sidang yang mungkin terjadi di jurusan. Sesampai di depan jurusan, aku mendapati orang yang maju pertama belum masuk untuk ujian, sedang aku berada di urutan ke dua. Aku menunggu hingga tiba waktuku dipanggil. Aku menunggu hingga sekitar 3 jam, karena adanya keterlambatan atau lain hal yang tidak diinformasikan. Sampailah aku dipanggil untuk mempersiapkan slide di ruang sidang. Aku masuk ruang sidang dan hanya ada seorang ibu-ibu, yang kemudian aku berpikir pastilah itu mbak novi –dosen baru yang akan menjadi salah satu pengujiku–. Sidang berjalan dengan baik, terimakasih kepada dosen pengujiku yang telah memberi masukan dan pertanyaan. Mereka adalah Cak Budhy, Mas Wid, dan Mbak Novi Kurnia. Sungguh aku bersyukur bisa lalui itu dengan tenang dan lancar, seperti doa dari orang tua dan teman-teman.

Aku melewati sidang kurang lebih 38 menit, waktu yang tercatat di rekamanku. Waktu yang sangat singkat bagiku, karena sesungguhnya banyak teman lain yang jauh lebih lama dari itu. Aku disuruh untuk keluar ruangan untuk kemudian diputuskan hasil sidang, dan ketika aku disuruh masuk kembali, aku dinyatakan lulus 🙂 Amat senang rasanya kala itu, ada rasa haru yang sangat. Kemudahan dan kelancaran, serta performa yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya aku dapatkan… Dan semua ini karena Allah telah memudahkan apa yang hendak dijadikanNya mudah bagiku, setelah sebelumnya aku rasakan bahwa sepertinya aku tidak akan bisa melalui semuanya seperti itu. Alhamdulillah…

Kini satu fase penting terlewati sudah, masih ada fase lagi yang jauh lebih penting namun tidak se-mendebarkan seperti fase sidang, yaitu revisi. Karena, nilai skripsi kita ditentukan dari hasil revisi kita. Mudah-mudahan hasilnya juga baik, namun bagiku baik atau tidaknya hasilnya tidaklah terlalu penting. Bagiku, jika aku dapat memaksimalkannya sesuai kemampuan tanpa dilebih-lebihkan itu sudah cukup, karena nilai skripsi saat ini memanglah tidak berarti apa-apa bagi duniaku. Hanya saja jika aku dapat memaksimalkan pekerjaanku sesuai kemampuanku, artinya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menulis sesuatu yang nantinya memang akan menjadi database di jurusanku. Jika skripsiku bisa baik dan bermanfaat, semoga kelak ada yang baca dan mendapat pesan yang aku harapkan mereka dapat dari skripsiku. Bagiku, si skripsi ini adalah sebuah kesempatan di dalam kesempitan. Kesempatan menghasilkan buku yang bermanfaat tanpa harus susah-susah mencari penerbit. Untukku dan untukmu, Ihrish ‘ala maa yanfa’uka wasta’in billahi walaa ta’jiz 🙂

Rasulullah bersabda, الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya memiliki kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Apabila ada sesuatu yang menimpamu janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku melakukannya niscaya akan begini dan begitu.’Akan tetapi katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah dan terserah Allah apa yang Dia inginkan maka tentu Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ‘seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan setan.” (HR. Muslim, no. 6945)
Hadits di atas adalah hadits yang sangat agung, siapa yang mampu menggapai sesuatu yang terkandung dalam hadits ini, sesungguhnya ia telah mendapat kebaikan agama dan dunianya secara bersamaan.

source hadits: here

in life, we do things..
some we wish we had never done
some we wish we could replay
a million times in our heads
but the all make us who we are
and in the end they shape every detail about us.
if we were to reverse any of them
we wouldn’t be the person we are today
so just live. make mistakes.
have wonderful memories
but never second guess who you are,
and where you have been,
more importantly, is where it is you are going 🙂
-unknown

Source picture: https://www.pinterest.com/

Berat Tapi Ringan

Ingatlah, sesuatu yang berat itu berat pada awal mulanya. Tak heran jika ada ungkapan, kesabaran akan berbuah manis pada akhirnya.

Maka…  keadaan pada akhir dari sebuah kesulitan yang ditempuh dengan kesabaran, bisa lebih menyenangkan dan lebih ringan dibanding sebelum berjumpa dengan kesulitan tersebut.

Semoga kita diberi kemudahan untuk bersabar

Untukmu dan untukku

#randomthought

Hati yang Terbolak-Balik

Hati kita senantiasa terbolak-balik
Cepat sekali, sehingga hari ini kita semangat dan besok pagi kita mendapati hati sedikit berkurang semangatnya
Ketika kita dalam kondisi semangat belajar
Kita akan semangat menempuh jalan itu walau rintangan menghadang
Ketika kita turun semangatnya
Jalan mudah pun tak kan mudah menempuhnya
Maka ketika turun semangat, jangan biarkan ia berlarut lama…
Jangan juga sampai belok ke arah yang salah
Tapi, jagalah agar tetap berada di jalur yang tepat, walau semangat sedang turun
ingatlah …..

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

وَلِكُلِّ عَمِلٍ شِرَّةٌ ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ يَكُنْ فَتْرَتُهُ إِلَى السُّنَّةِ ، فَقَدِ اهْتَدَى ، وَمَنْ يَكُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ ، فَقَدْ ضَلَّ

”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya. Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” HR. Thobroni dalam Al Mu’jamAl Kabir, periwayatnya shohih. Lihat Majma’ Az Zawa’id 

Hadist dikutip dari http://rumaysho.com/amalan/di-balik-amalan-yang-sedikit-namun-kontinu-550

 

 

Aku dan Siapa Lagi?

Gambar
Aku rasa aku mulai berpikir untuk menutup facebook dan twitter 🙂

Aku merasa, ada yang harus diperbaiki dalam kehidupanku. Setiap orang, tentu tidak ingin berada dalam posisi yang sama sepanjang hidupnya. Perubahan itu pasti, namun jika tidak dimulai maka tidak akan pernah ada. Menutup facebook dan twitter baru saja terbersit, artinya.. belumlah dilakukan. Aku memiliki beberapa orang yang menjadi inspirasi untuk langkah ini. Tentu saja, setiap perubahan dalam hidup pastilah ada satu atau dua orang yang menjadi inspirasi kita. Maka, itu menjadi penting nantinya jika kita ingin berubah ke arah yang lebih baik untuk mencari orang yang tepat yang dijadikan inspirasi dan berbagi pengalaman.

Dalam fase hidup, kita tak pernah sama. Aku pikir tidak semua orang ingin berubah, tetapi setiap orang selalu ingin jadi lebih baik. Perubahan itu dilakukan bagi yang punya nyali saja. Perubahan itu memang terasa berat, jika dilakukan pada saat yang belum tepat. Jika semua sudah matang-matang dipikirkan dan didiskusikan dengan orang yang tepat, tak lupa lebih dulu meminta petunjuk dari Allah (baca: istikharah sebelum menentukan pilihan), maka perubahan menjadi ringan dilakukan.

Saat ini, aku hanya terpikir untuk melakukan itu semua, tetapi belum kulakukan. Aku masih memiliki kepentingan pada grup-grup facebook, memiliki sejumlah teman dan saudara yang memudahkan dalam hal komunikasi. Aku pun, masih suka membuat update di twitter untuk hal yang aku lakukan, agar orang lain tau aktivitas dunia maya yang aku lakukan. Tujuannya, agar aktivitas dunia maya yang aku lakukan bukanlah hanya untukku sendiri, tetapi bisa juga menjadi pilihan bagi orang lain untuk dikonsumsi. Selama hal itu baik dan bisa bermanfaat jika dibagikan, dan lalu sesuai di dalam koridor syari’at, maka aku tidak perlu khawatir untuk membagikannya.

Hal itulah yang masih menjadi alasan untuk masih menggunakan facebook dan twitter 🙂 Tetapi, tetap terbersit keinginan mendalam untuk menutup keduanya. Membayangkan kebebasan setelah terlepas dari keduanya 😀 Perubahan dalam hidup, kadangkala menjadi keinginan. Namun, saat ini opsi yang aku ambil adalah opsi yang menurutku paling pas. Opsi ini adalah menggunakan sosial media seperlunya. Jika urusan selesai, maka siap meninggalkan beranda dan tidak berkeliling dan habiskan waktu untuk membaca yang mulai dirasa tak jadi prioritas. Caranya adalah dengan kembali mengingat tujuan yang memang benar ingin diraih.

Intinya, jika kita memiliki dorongan baik muncul dari dalam hati yang paling dalam, jangan buang itu. Jangan hancurkan fitrah yang ada di dalam hati. Jika kita punya dorongan untuk tidak melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu karena alasan yang baik, maka ikutilah dan carilah orang yang tepat untuk berbagi dan bercerita, juga doronglah diri untuk selalu kembalikan urusan pada Allah ta’ala. Kita berada di zaman fitnah, kadang dorongan hati ke arah yang lebih baik dihancurkan oleh dorongan lain, seperti dorongan syahwat dan syubhat. Kadang dorongan hati ke arah yang lebih baik, dihancurkan oleh televisi (media massa) dan teman yang tidak baik. Setiap kita, punya fitrah untuk jadi lebih baik (baca: menjaga kesucian fitrah manusia). Maka, intinya lagi, jika ada dorongan baik di dalam hati, jangan abaikan dan jangan ikuti langkah syaitan yang ingin menjerumuskan. Bersemangatlah untuk mencari jawaban atas kegelisahan-kegelisahan hati yang kita dihadapi. Kegelisahan hati tersebut tak hadir kecuali kita masih memiliki fitrah untuk jadi lebih baik…

Berhari-hari setelah aku menulis tulisan ini, Mbak Fafa (salah seorang senior yang dulu pernah tinggal di tempat kami tinggal) berkunjung lagi ke Yogyakarta, setelah lama menetap di Arab Saudi dan menjadi penuntut ilmu di sana. Banyak nasehat yang beliau sampaikan, terutama dalam hal semangat menuntut ilmu yang dia lakukan dulu lebih dari apa yang dia dapati di masa-masa sekarang. Menurutnya, saat ini fitnah yang terjadi adalah socmed. Dan memang benar adanya, aku pun setuju dan memang sudah masanya tidak terlalu tertarik dengan facebook dan twitter tanpa tujuan. Mbak Fafa bertutur hal yang sangat sesuai dengan apa yang aku pikirkan belakangan ini. Dia memberi saran yang menyentuh (setidaknya bagiku sendiri),

Sebelum masuk ke sosial media, pastikan ada faedah yang didapat.

Tinggalkan social media, jika tanpa faedah yang pasti. Tinggalkan saja. (sambil tangan mbak Fafa isyarat mengusir sesuatu)

Jika tanpa faedah, lebih baik melakukan hal yang lain. Masih banyak yang belum dimuroja’ah dan dihafal.

Akhir tulisan, mungkin akan ucapkan sedikit perpisahan pada dunia sosial media. Kita harus berpisah dulu ya.. 😉

GambarGambar

It’s gone!

It's gone!

2 Juni 2014. Bismillah. Say good bye to my tumblr! Postingan ini juga untuk pamit sama teman-teman yang jadi followers (yang mungkin mampir ke sini), seingat saya 119 tumblr mencakup yang dikenal dan tidak dikenal. Saya minta maaf apabila selama ini ada postingan yang salah ataupun tidak baik, mohon dimaafkan ya^^. Mungkin lain waktu saya akan pakai tumblr lagi? Who knows…