Ramadhan: Almost Here

eab0c4d6533f6b4f49b4172350563170Kawanku yang aku cintai karena Allah…
Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu, tamu yang sangat istimewa.
Tamu yang sangat dinantikan, dinantikan oleh orang-orang beriman.
Ia akan datang, dan akan pergi… seperti tahun-tahun sebelumnya.
Tentu ia datang, dengan kehendak Allah, dan dia pergi pula, dengan kehendak-Nya.

Wahai kawanku, mengapa ia sangat istimewa, sehingga para salaf terdahulu pun sangat menantikannya dengan kerinduan yang amat sangat. Kerinduan yang tidak bisa digantikan sebelum bertemu dengannya.
Apa yang ia janjikan? Apa yang begitu istimewa?
Apa yang membedakan, hati yang begitu rindu, dan hati yang berpaling darinya?

Kawan, mari kita ingat lagi, apa yang hendak kita cari…di dunia ini.
Apakah harta yang kita cari? Ataukah kedudukan- yang mulia- di antara manusia? Ataukah kita sedang mencari kecantikan, atau ketampanan seorang pria?
Apa wahai saudariku, yang hendak kau cari sesungguhnya di dunia ini?
Sehari-hari berletih-letih, sebenarnya apa yang hendak kau kejar? Bangun tidur, beraktivitas, sampai tidur lagi…
Detik-detikmu berlalu, apa yang hendak kau rengkuh?

Lihatlah lagi, apa yang diberikan Allah dalam satu tahun, 12 bulan yang diberikan Allah… mengapa satu bulan ramadhan…
Mungkin kita bisa lihat lagi, apa yang diberikan Allah pada bulan ramadhan?
Apakah Allah menjanjikan harta yang banyak pada bulan itu? Apakah Allah memberikan jabatan dan kedudukan?
Lantas apa cita-cita yang seharusnya hendak kau rengkuh. Allah sediakan satu bulan di antara 12 bulan, satu itu satu bulan ampunan. Allah memberikan 12 bulan, dan 1 bulan penuh ampunan. Bagi siapa yang niat dengan tulus dan ikhlas, dengan niat yang benar, ingin janji Ampunan Allah ta’ala.. cita-cita tinggi, dan harapkan ridho Allah ta’ala..

Ia ingat pada hadits,

“Barangsiapa yang berpuasa dengan iman dan mengharapkan (pahala dari Allah), maka diampunkan baginya dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah, betapa selama ini kita telah melalaikan, cita-cita yang telah disediakan oleh Allah ta’ala.
Allah telah sediakan ampunan, tapi kita mengharap dunia.
Mengapa, kita bisa salah menempatkan cita-cita?
Kemana hari-hari berlalu di dunia? Dan tidakkah kita ingin melongok, cita-cita apakah yang sebenarnya hendak kita capai dalam hidup ini.

Bulan Ramadhan, sekiranya ia datang dan kita tidak sadar, maka sungguh kita telah terlalaikan.
Ada rindu yang sangat, ada dambaan hati yang dinanti, ketika ramadhan datang… ketaatan yang berbalas ampunan yang luas. sarana yang bisa bisa diniatkan untuk bertaubat…

Ramadhan, engkau adalah bukti Allah mencintai. Betapa banyak peluang yang bisa diraih di sana.
Marhaban yaa Ramadhan.. semoga rindu ini tersampaikan. Pada nanti ketika kita bertemu di hari itu.

Maka ingatlah wahai saudariku,

Ramadhan adalah kesempatan emas untuk menjadi orang yang bertakwa

Allah berfirman :

يَأيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. [Al Baqarah : 183]

Maka tidakkah kita ingin menjadi golongan orang-orang bertakwa?

Dan ingatlah pula, bahwa puasa adalah…

Kesempatan diri untuk membiasakan mentadabbur Al-Qur’an

Betapa banyak orang yang telah berpaling dari Al Qur`an dan meninggalkan membaca Al Qur`an. Atau tatkala membacanya, tanpa disertai dengan mentadabburi (perenungan) kandungan maknanya. Sehingga pada sebagian orang, Al Qur`an menjadi sesuatu yang terlupakan..

Dan ingatlah, tak layak tuk disia-siakan wahai kawan, jika..

Ramadhan adalah kesempatan untuk instropeksi diri

Ingatlah saudariku, di bulan ramadhan, pula kita akan merasakan..

Lezatnya Ketaatan

Seorang hamba yang menyadari bahwa Allah adalah sesembahan-Nya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasul-Nya tentu akan merasakan lezatnya ketaatan dalam beribadah dan tunduk kepada syari’at-Nya. Dia tidak akan merasa berat atau sempit tatkala harus menunaikan perintah Rabb alam semesta.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan lezatnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-’Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu)

Iringilah: Amal Salih Dengan Keikhlasan

Puasa Ramadhan adalah amal salih yang sangat utama. Bahkan ia termasuk rukun islam. Sementara amal salih tidak akan bernilai di sisi Allah jika tidak diiringi dengan keikhlasan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. al-Kahfi: 110)

Landasilah: Amalan Puasa Dengan Takwa

Takwa adalah menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Thalq bin Habibrahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah dengan mengharap pahala dari Allah. Dan kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut terhadap hukuman Allah.”

Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga. Lebih daripada itu, puasa adalah ketundukan seorang hamba terhadap Rabb yang telah menciptakan dan mengaruniakan segala macam nikmat kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia. Sembahlah Rabb kalian, yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 21)

Harapkan: Pahala dan Ampunan dari-Nya

Pahala dari Allah dan ampunan-Nya adalah sesuatu yang amat dibutuhkan oleh seorang hamba. Sementara pahala dan ampunan itu Allah peruntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan menjalankan ketaatan kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya lelaki dan perempuan yang muslim, lelaki dan perempuan yang mukmin, lelaki dan perempuan yang taat, lelaki dan perempuan yang jujur, lelaki dan perempuan yang sabar, lelaki dan perempuan yang khusyu’, lelaki dan perempuan yang bersedekah, lelaki dan perempuan yang berpuasa, lelaki dan perempuan yang menjaga kemaluannya, lelaki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah. Allah sediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang sangat besar.” (QS. al-Ahzab: 35)

Reference:
Abu Mushlih Ari Wahyudi. 2012. Bersiap Menyambut Ramadhan. Diakses 24 Mei 2014
Firanda Ibnu Abidin As-Soronji. 2012. Renungan di Bulan Ramadhan. Diakses 24 Mei 2014

04c8b538255395fce948a9e2bea86a5e

Iklan

Sosok Fudhail bin Iyadh

Saya bukanlah orang yang suka membaca. Tapi saya percaya, kalau membaca itu bukanlah seperti hobi yang butuh kesukaan. Bagi saya, membaca adalah seperti berlari, sebuah kebutuhan. Semua orang bisa punya kemampuan ini meskipun berbeda-beda tingkatannya. Kalau dia rajin berlatih, larinya kencang dan lama. Kalau dia tak pernah berlatih, lari sebentar pun capek. Membaca pun demikian, meskipun kita bukan orang yang kutu buku, jika kita rajin membaca maka kita pun akan dapat merasakan manfaatnya.

Nah, setelah sekian lama tidak membuka-buka bahan bacaan di luar bahan bacaan skripsi, kali ini saya baca sebuah majalah yang sudah cukup populer, Elfata. Sebuah majalah islam yang disasarkan untuk anak muda. Majalah islam ini menurut saya sangat keren, isinya informatif dan up date, terkadang adapula informasi yang jarang dibahas di dunia maya sekalipun, yang mana dunia maya terkenal lebih cepat dalam persebaran informasi. Kali ini, saya cukup tertegun dan terhenti sejenak. Mungkin karena momen yang tepat ketika membacanya, atau bisa juga karena jiwa mungkin sedang butuh dengan angin-angin segar semangat dari sosok teladan. Kali ini, dan ketika membuka rubrik profil, lalu membaca profil seorang Fudhail bin Iyadh dan quote-quote perkataannya, sungguh lantas terpikir, sosok seperti apakah beliau ini. Supaya tak panjang lebar, simak ya… saya ketikkan ulang khusus untuk pembaca sekalian.

# Mengenang Fudhail bin Iyadz Rahimahullah #

Kaji kita kali ini bersama seorang ulama besar yang dikenal di zamannya. Dialah Fudhail bin Iyadh rahimahullah. Fudhail bin Iyadh lahir di Khurasan kemudian menuntut ilmu ke Kufah. Setelah dewasa beliau mulai menuntut ilmu di kota Mekah dan tinggal di sana hingga meninggal dunia.

Kelezatan Ibadah

Fudhail rahimahullah dikenal sebagai ahli ibadah. Tiada hari berlalu tanpa meninggalkan ibadah. Beliau senantiasa menjaga shalat malamnya, hal ini pernah diceritakan oleh Ishaq bin Ibrahim rahimahullah,

“Apabila Fudhail membaca Qur’an, terdengar sangat mengharukan, menghanyutkan, pelan dan perlahan-lahan seakan-akan beliau berbicara di hadapan manusia. Jika Fudhail melewati satu ayat yang menyebutkan tentang Surga beliau membacanya berulang-ulang. Tiap malam beliau menggelar tikar di masjid dan melaksanakan shalat dari awal waktu malam sampai rasa kantuk menyerangnya lalu beliau merebahkan diri di tikar tersebut dan tertidur sebentar kemudian bangun dan shalat. Jika kantuk kembali menghinggapi, beliau tidur sebentar lalu bangun kembali untuk shalat. Beliau terus menerus melakukan yang demikian sampai datang waktu subuh.”

Fudhail rahimahullah pernah berkata, “Jika engkau belum mampu untuk shalat malam dan puasa di pagi harinya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya engkau telah diharamkan dan dibelenggu dengan dosamu.”

Fudhail juga berkata, “Aku menjumpai suatu kaum yang merasa malu di kegelapan malam karena banyaknya tidur, jika bergerak dia berkata; bukan seperti ini kamu, bangunlah dan ambil bagianmu dari akhirat.”

Pernah diceritakan oleh Mansyur bin Ammar rahimahullah, “Suatu saat aku sedang berbincang-bincang di Masjidil Haram, lalu aku menyebutkan sesuatu tentang sifat neraka, tiba-tiba aku melihat Fudhail bin Iyadh berteriak hingga jatuh pingsan.”

Fudhail pernah berkata, “Kalau seandainya aku disuruh memilih untuk hidup dan mati menjadi binatang sehingga aku tidak melihat hari kiamat, maka aku akan memilihnya sehingga aku tidak melihat hari kiamat.”

Menjauhi Riya’

Fudhail sangat sering menasehati manusia untuk menjauhi sikap riya. Di antara nasihatnya, “Berhati-hatilah engkau dari menjadi orang yang Riya namun engkau tidak merasakannya.”

Fudhail juga berkata, “Jika aku meminta dunia dengan gendang dan seruling lebih aku sukai daripada aku meminta dunia dengan ibadah (riya’)”

Berkata Fudhail kepada seorang lelaki, “Aku akan mengajarkan kepada engkau sebuah kalimat yang lebih baik dari dunia dan seisinya; ‘Demi Allah, jika Allah mengetahui bahwa engkau telah mengeluarkan manusia dari hatimu sehingga tidak ada lagi tempat di hatimu untuk selain Allah, maka jika engkau meminta sesuatu kepada-Nya pasti Allah akan memberinya.”

Wasiat Lainnya

Pernah beliau berkata kepada Sufyan bin Uyainah rahimahullah,

“Jika engkau menyangka bahwa di dunia ini ada orang yang lebih buruk daripada kita berdua maka itu adalah sejelek-jeleknya persangkaan.”

Dari Husein bin Ziyad rahimahullah berkata, “Suatu hari aku bertemu Fudhail bin Iyadh, beliau berkata: ‘Barangkali engkau melihat di Masjidil Haram orang yang lebih buruk dari engkau, jika engkau melihat bahwasanya ada orang yang lebih buruk dari engkau maka engkau telah diuji dengan ujian yang berat.”

Fudhail pernah berkata, “Kalau seandainya dunia dan segala isinya adalah halal untukku maka aku akan tetap merasa jijik dengannya” (Al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, Hal. 144)

Beliau juga berkata, “Siapa yang menjaminmu. Jika engkau menentang Allah subhana wata’ala dengan melakukan sebuah amalan yang dibenci Allah, maka akan ditutup ointu-pintu taubat dan engkau hanya bisa tertawa, bagaimana engkau melihat keadaanmu yang demikian?”

Fudhail telah mengambil faedah ilmu yang banyak dari para pembesar Tabiin seperti: Al-A’masy rahimahullah, Atho bin Sa’ib rahimahullah, dan lainnya.

Fudhail meninggal pada tahun 187 H. Demikian beberapa petuah singkat dari Fudhail bin Iyadh rahimahullah. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari tulisan ini. Wallahu ‘alam bishawab.

Quote-quote Fudhail bin Iyadh dari sumber lain:

Ya Allah, tolonglah kami.”

Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Tidak sempurna kondisi seorang hamba, sampai ia mendahulukan agamanya dibandingkan syahwatnya” (as Siyar 7/396)

@D_ghaith – Dr Muhammad bin Ghaits. Doktor dalam bidang syariah, da’i khatib dan peneliti di UEA
Fudhail bin Iyadh berkata: “Barangsiapa yang mencari teman yang tidak ada aibnya, maka ia akan berakhir tanpa memiliki satu temanpun.”
@mishari_alafasy – Syaikh Misyari Rasyid Al Afasy, qari’ yang masyhur di Timur Tengah dan Indonesia, Imam Masjid besar Kuwait dan alumnus Universitas Islam Madinah Fakultas Studi Islam dan Al Qur’an

Kisah lain tentang Fudhail bin Iyadh:

Ada yang ingin menambahkan?

Tak Sengaja

Bersyukurlah jika bertemu teman yang mau jaga aib-aibmu. Tak bocor. Kelak, aib-aibnya yang tak sengaja kau tau pun harus kau jaga, kuat-kuat. Semoga selamat,di akhirat kelak.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba lainnya di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” (HR. Muslim no. 2590)

source hadits: http://al-atsariyyah.com/menutupi-aib-sesama-muslim.html

Project Desain

Latepost! Beberapa waktu lalu diminta teman untuk membuat desain undangan pernikahannya. Cukup deg-deg-an menggarapnya, karena ini pertama kali membuat desain undangan. Saya direquest warna putih, pink, dan biru muda. Dan ini hasilnya:

 

COVER depan belakang AR

 

Kalau desain yang ini suka-suka aja 😀

versi online

 

 

Welcoming Ramadhan

Ramadhan akan datang kawan…

Sabarlah… sebentar lagi…

Sambil menanti, mari siapkan bekal..

Seseorang akan menyesal
Bila terjun dalam peperangan
Tapi tanpa persiapan

Seseorang akan menyesal
Bila dapati Ramadhan
Tapi tanpa bekal mapan

Source: muslimah.or.id [http://muslimah.or.id/ramadhan/siapkan-bekal-ramadhan-mulai-hari-ini.html]

Source for your Ramadhan:

  1. http://muslimah.or.id/category/ramadhan
  2. http://kajian.net/ceramah-ramadhan
  3. android apps untuk panduan ramadhan
  4. android apps resala ramadhan
  5. video ceramah yufid.tv

Mereka di Sebrang Pulau

386060bdb16f15ebbbfd2d923b8e04df

know I’m nothing. Kalau dibandingkan sama perjuangan mereka, di sebrang pulau sana, memang tak bisa dibandingkan. Berjuang mati-matian supaya bisa pakai jilbab. Tak salah bilang ‘mati-matian’, bagaimana jika hampir dibunuh sama ayahnya sendiri, dipanggilkan orang mabuk, hampir dibakar hidup-hidup, atau ditarik sampai hutan, tidur di atas kapal ikan tanpa atap dan bau menyengat, atau merasakan terkurung 5 bulan di dalam rumah karena tidak punya jilbab? Cerita ini mungkin ketika kita dengar kita cuma bisa bengong. Tak mungkin, tega sekali. Tapi, kita tak pernah tau di belahan bumi mana, ada orang yang mati-matian menjaga kehormatan dirinya. Ada orang yang di antara ratusan manusia, dia dapat hidayah dan berjuang sendirian. Berjuang supaya bisa pakai kaos kaki, berjuang supaya bisa tidak salaman sama laki-laki asing, berjuang dibolehkan baca Al-Qur’an, bahkan tak bisa sholat, atau sedang berjuang agar bisa berpuasa. Kita tak pernah tau kalau taruhannya adalah nyawa. Yang jelas, mungkin hanya doa yang sampaikan keinginan kita pada mereka. Kadang lupa, kita di jawa ini mudah sekali, semua fasilitas ada. Kajian dekat, pakai jilbab juga mudah. Lupa, kalau di sana banyak yang ingin di posisi kita. #notetomyself

Makasih kakak Rani, atas kunjungan kakak dan cerita kakak, semoga yang baca ini turut merasakan juga apa yang kita rasakan malam ini.

# Sebelum cerita ini hilang, sebelum cerita menjadi basi, atau hanya jadi memori yang ‘lupa-lupa ingat’. Tuliskan. #

 

 

Update Status

Udah punya list mau nulis tentang banyak hal yang akhir-akhir ini dilakukan dan mungkin akan dilakukan. Qadarullah masih ada yang harus dikerjakan. Padahal tangan ini pun sudah gatel juga ingin “ngoceh” di blog.

 

# posting gak penting, macam update status, menjelang skripsi harus dikumpulkan.

Musibah Menjadi Anugrah (Ustadzah Ummu Hani)

Kemarin dateng kajiannya Ustadzah Ummu Hani (istri ust. ali nur medan) di daerah Bin Baz.. masya Allah isinya keren banget. Saya share yaa..

Seorang muslim selalu dapat menjadikan segala hal yang dihadapinya menjadi sebuah anugrah yang indah. Mengapa ya?

Permasalahan di dunia bukanlah musibah yang hakiki, karena semata-mata hanyalah cobaan, untuk lihat mana yang hina dan mana yang mulia.

Kuncinya sabar. siapa orang yang paling bahagia? Orang yang sabar, karena semua hal milik Allah.

Kalau kita bisa sabar, kita dapet apa? Kita kan dapatkan keberkahan, rahmat, dan taufik. Maasya Allah..

Dengan ketiga hal tersebut, kita jadi dimudahkan untuk kembali pada Allah. Cobaan tak lain tak bukan jadikan hati kita semakin lembut.

Dunia ini rendah dan hina, kebahagiaannya tak sempurna, negeri kesusahan, manusia pun diciptakan dalam keadaan susah bukan? Sejak manusia rasakan udara di dunia.

Hikmahnya, ketika kita merasakan surga kelak sekali celup, nikmatnya terasa berlipat-lipat.

Mudah-mudahan kita adalah salah satu penghuni surga-Nya.

Allaah telah menghadiahkan islam kepada kita, tanpa kita memintanya..
Semoga Allah juga akan menghadiahkan surga yang selalu kita minta..

 Quote from Syaikh Salih Al Maghamisi, Imam Masjid Quba

Cita-Cita Tinggi

Gambar

Memiliki cita-cita yang besar dapat menghilangkan darimu angan-angan dan perbuatan yang hampa dan menghancurkan “pohon” kehinaan, rendah diri, mudah terbawa arus, dan mencari muka. Tetapi sebaliknya, cita-cita yang tinggi dapat menguatkan jiwa sehingga tidak takut dalam bersikap dan menghadapi keadaan apapun. Orang yang kehilangan cita-cita dapat membuatnya menjadi pengecut, yang tidak berani berkata-kata karena merasa diri lemah.

Benar sekali, memiliki cita-cita yang tinggi dapat menghilangkan angan-angan dan perbuatan yang hampa. Angan-angan adalah mengharapkan sesuatu tanpa dibarengi usaha untuk meraihnya. Seorang mukmin adalah seorang yang cerdas yang tidak akan dibuai oleh angan-angan. Akan tetapi ia akan selalu memperhatikan apa yang harus diperbuatnya untuk meraih yang ingin dicapainya.

Salah satu contoh orang yang dilalaikan oleh angan-angan seperti orang yang berkata, “insya Allah, saya akan membaca ini” Atau saya akan memeriksa kembali masalah ini, tetapi setelah istirahat terlebih dahulu,” Sering juga ada orang yang sedang membuka-buka buku untuk memeriksa satu persoalan. Tetapi ketika ia melihat daftar isi dan beberapa halaman, ia terlalaikan dari tujuan asal untuk memeriksa permasalahan yang ia maksudkan. Dan ini sering kali terjadi, sehingga ketika waktu telah habis, ia belum juga memeriksa persoalan yang ingin ia baca dari buku itu. Maka jauhilah angan-angan dan kuatkanlah dirimu dengan tekad yang kuat dan cita-cita yang tinggi.

Apabila kamu tidak mampu, tinggalkanlah
Lewatlah, kerjakan yang kamu mampu

dikutip dari buku seorang teman, berjudul, “Hilyah Tholabul ‘Ilm”

Bicara Soal Etnografi

Gambar

Belajar etnografi itu belajar memahami manusia. Kita disuruh membuat pertanyaan awal sebagai dasar untuk memahami, pertanyaan general saja. Lalu, pertanyaan itu ditanyakan kembali di lain kesempatan untuk menguji apakah jawabannya sama, ataukah berbeda. Setelah itu, kita membuat pertanyaan lanjutan dari hasil jawaban pertanyaan pertama dan pertanyaan kedua. Dari pertanyaan lanjutan itu, akan muncul jawaban unik yang bisa dituliskan lebih dalam dan dikategorikan.
Kalau perlu dan belum jelas, maka akan muncul pertanyaan lanjutan lagi. Setelah itu diadakan wawancara tatap muka dengan pertanyaan yang diulang dan pertanyaan mendalam, untuk dapat memahami lebih detail, sehingga didapatkan gambaran yang jelas. Setelah itu langkah terakhir adalah observasi. Menguji seluruh yang selama ini menjadi tanya jawab, memastikan saja, sebagai bentuk laporan menyeluruh.
Hasil observasi pasti berbeda dengan pertanyaan teks atau wawancara, tetapi itu justru bisa menghasilkan analisis yang panjang dan bisa menjadi cerita menarik yang dijadikan bahan tulisan. Sekilas tentang metode skripsi saya, dan saya nggak tau apakah secara akademis ini benar atau salah, jadi jangan dijadikan bahan rujukan ya. just for sharing! 🙂