Untuk Mereka yang Memiliki Hati

Gambar

Ia terus mengucapkan ingin pergi dan selalu menyebut-nyebutnya

Hingga unta tertambat di depan pintu rumahnya

Terus menguntitnya dengan gigih dan terus terjaga

Dengan penuh persiapan tak terganggu angan-angan belaka

Hingga kini aku masih terus  teringat. Waktu kecil dahulu aku pernah dimasukkan ke rumah sakit selama seminggu karena kram kedinginan yang menimpaku. Setelah keluar dari rumah sakit, aku mendengar dokter memberitahukan kepada orang tuaku bahwa kesehatanku sekarang sudah membaik. Tetapi penyakit ini akan berpengaruh juga di masa mendatang.

Tahun demi tahun pun berlangsung. Aku pun beranjak dewasa, dan kemudian menjadi seorang ayah.

Kadang-kadang aku merasa lelah hanya karena sedikit tenaga yang kukeluarkan. Aku pergi ke rumah sakit untuk check up kesehatan. Ternyata terbukti bahwa aku memiliki kelemahan di bagian katup jantung, sehingga harus menjalani operasi jantung.

Kelemahan itu berasal dari penyakit kram yang menimpaku beberapa tahun yang lalu, kemudian berkembang menjadi reumatik jantung.

Aku berusaha membujuk dokter supaya memberiku obat dan waktu istirahat saja, sehingga tidak perlu operasi. Tetapi dokter itu memberitahuku, “Anda baru merasa perlu dioperasi beberapa bulan. Anda akan yakin sendiri nanti.”

Ternyata terbukti setelah beberapa bulan, aku mulai terlihat lemah dan pucat sekali. Aku memutuskan untuk ridha terhadap takdir Allah. Aku menyerahkan urusan ini kepada Allah semata.

Setelah menjalani pemeriksaan lengkap dan berbagai urusan tetek bengeknya, terjadilah kesepakatan waktu untuk datang ke rumah sakit dan menjalankan opname, yakni satu hari sebelum operasi.

Setelah itu, pada hari pertama, para karib kerabatku datang berkunjung. Aku sungguh senang dan tentram. Aku duduk sebentar kira-kira satu jam dengan dokter bedah yang akan melakukan operasi terhadap diriku…

Pada malam sebelum operasi dilakukan, aku tidur dengan nyenyak. Aku sama sekali tidak memikirkan apa-apa. Bersamaan dengan adzan Shubuh, aku terbangun. Aku dengarkan suara adzan itu. Lantunannya masuk ke dalam lubuk hati, menggetarkan jiwaku. Hatiku berbisik, mengusik ketenangan. Aku tidak tahu, apa yang sedang terjadi pada diriku? Operasi ini berat. “Mungkin saja ini adalah hari terakhirmu di dunia. Dan mungkin ini adalah adzan terakhir yang kau dengar.” Berbagai bisikan datang dari berbagai penjuru. Baca lebih lanjut

Waktu yang Tersia-siakan

Gambar

Al-Hasan al-Bashri mengungkapkan, “Aku mendapatkan sekelompok orang yang lebih kikir terhadap usianya, daripada kekikirannya terhadap uangnya.”

Sejak kemarin sore, anakku yang masih kecil dalam kondisi yang tidak diharapkan. Sepulang kerja sore hari ini, aku sudah menetapkan untuk segera pergi ke rumah sakit, meski tubuhku amat lelah. Namun kelelahanku ini tidak berarti apa-apa jika untuk kepentingannya.

Aku membawanya dan aku pergi. Banyak juga pasien yang menunggu. Kemungkinan kami terlambat sekitar satu jam. Aku segera mengambil kartu masuk untuk menemui dokter, dan segera menuju ruang tunggu.

Ada banyak raut wajah yang bermacam-macam. Anak kecil, juga orang dewasa. Semuanya diam tercekam. Ada beberapa notes kecil yang disimpan sebagian rekan kami.

Aku melirik ke arah orang-orang yang hadir di situ. Ada yang memejamkan mata, tidak jelas apa yang dipikirkan.

Sebagian ada yang mengikuti pandangan orang-orang di sekitarnya. Sebagian lagi terlihat di wajah mereka kegelisahan dan rasa bosan menunggu.

Suasana hening berlangsung lama. Terdengar suara memanggil, “Pasien nomor sekian.” Terlihat kegembiraan di wajah orang yang dipanggil. Dengan langkah ringan ia berjalan cepat, kemudian kembali terjadi keheningan.

Pandanganku tertuju kepada seorang pemuda tanggung. Ia tidk mempedulikan segala yang ada di sekitarnya. Ia membawa sebuah mushaf saku kecil yang terus dibacanya. Tidak menoleh sedikit pun. Aku memandanginya, tanpa banyak memikirkan kondisinya. Namun setelah lama menunggu selama satu jam penuh, pandanganku kepadanya berubah menjadi pikiran yang mendalam terhadap gaya hidup pemuda itu dan kegigihannya memelihara waktu. Baca lebih lanjut

Allah berfirman, “Maka ke manakah kamu akan pergi?”

Apabila matahari digulung,
Dan apabila bintang-bintang berjatuhan,
Dan apabila gunung-gunung dihancurkan,
Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan tidak terurus,
Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,
Dan apabila laut dijadikan meluap,
Dan apabila ruh-ruh dipertemukan dengan tubuh,
Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,
Karena dosa apakah dia dibunuh,
Dan apabila catatan-catatan amal perbuatan manusia dibuka,
Dan apabila langit dilenyapkan,
Dan apabila neraka Jahim dinyalakan,
Dan apabila surga didekatkan,
Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.

Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang,
Yang beredar dan terbenam,
Demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya,
Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing,

Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril)
Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tnggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy,
Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya,
Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila,
Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.
Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang ghaib.
Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan syaitan yang terkutuk,

Maka ke manakah kamu akan pergi?
Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam,
(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan Semesta Alam.

Firman Allah Subhana wata’ala, Surat At-Takwir [81] 29 Ayat

Gambar

Perjalanan

Gambar

Aku bertanya kepada negeriku apa yang dapat ia kabarkan,

Tentang hal para kekasih akan apa yang mereka kerjakan.

Negeriku berkata, “Mereka telah menyingkir sejak lama, pergi berlalu.”

Aku bertanya, “Ke mana aku akan mencari mereka pergi? Tempat singgah mana yang mereka singgahi.”

Sang negeri menjawab, “Carilah dalam kubur mereka; mereka telah mendapatkan balasan dari apa yang telah mereka lakukan.”

 Saudariku tampak pucat dan kurus, namun sebagaimana kebiasaannya, ia tetap membaca al-Qur’an…..

Jika engkau mencarinya, pasti akan mendapatinya di tempat shalatnya, sedang rukuk, sujud, dan menengadahkan kedua tangannya ke atas langit. Demikian setiap pagi dan petang, juga di tengah malam buta, tak pernah merasa malas dan tak pernah merasa bosan.

Sementara aku amat gemar membaca majalah-majalah seni dan buku-buku yang berisi cerita-cerita. Aku juga menonton video, sampai aku dikenal sebagai orang yang keranjingan nonton. Orang yang banyak melakukan suatu hal, pasti ditandai dengan perbuatan itu. Aku tidak menjalankan kewajibanku dengan sempurna. Aku juga bukan orang yang selalu melaksanakan shalat dengan rutin.

Setelah aku mematikan video player, setelah selama tiga jam aku menonton berbagai macam film tanpa henti, terdengarlah adzan dari masjid sebelah.

Aku pun kembali ke tempat tidurku. Wanita itu memanggilku dari arah mushallanya, “Apa yang engkau inginkan wahai Nurah?” Tanyaku. Dengan suara tajam, saudariku itu berkata kepadaku, “Janganlah engkau tidur sebelum engkau menunaikan Shalat Shubuh!” “Ah. Masih tersisa satu jam lagi, yang engkau dengar tadi itu baru adzan pertama….”

Dengan suaranya yang penuh kasih –dan seperti itulah sikapnya sebelum terserang penyakit parah dan jatuh terbaring di atas kasurnya– saudariku itu kembali memanggil, “Mari sini Hanna, duduklah di sisiku.” Sungguh aku sama sekali tidak dapat menolak permintaannya, yang menunjukkan karakter asil dan kejujurannya.

Tidak diragukan lagi, dengan pasrah, kupenuhi panggilannya.

“Apa yang engkau inginkan?” Tanyaku. “Duduklah.” Ujarnya. Aku pun duduk. “Apa gerangan yang akan engkau utarakan?” Dengan suara renyah dan merdu, ia berkata,

Baca lebih lanjut

Tentang Menundukkan Pandangan

Berkata Imam As-Syafi’i
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ     فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ              وَنُوْرُ اللهِ لاَ يُهْدَى لِلْعَاصِي
Aku mengadu kepada imam Waki’ tentang buruknya hapalanku   maka beliaupun mengarahkan aku untuk meninggalkan kemaksiatan.
Ia mengabarkan kepadaku bahwasanya ilmu adalah cahaya…..dan cahaya Allah tidaklah diberikan kepada orang yang bermaksiat.

Saudariku, pernahkah engkau bertemu dengan orang yang selalu menahan pandangannya? selalu berusaha tidak melihat lawan jenis, atau hal-hal yang diharamkan, hal-hal yang tidak berguna? coba simak tentang hal-hal berikut, selamat mendalami dan membaca.

Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan bahwa,

“Pandangan itu merupakan utusan hati, hatilah yang mengutus pandangan untuk melihat apa yang bisa dikabarkannya dari keindahan apa yang terlihat. Kemudian dari apa yang dilihat inilah muncul rasa rindu, yang kemudian berubah menjadi rasa cinta yang selanjutnya rasa cinta ini dapat berubah menjadi rasa cinta yang bersifat penghambaan, sehingga hatinya menjadi hamba apa yang dia cintai yang semula hanya berawal dari apa yang dia lihat. Sehingga akhirnya mengakibatkan letihnya hati dan hatinya akan menjadi tawanan apa yang ia lihat. Kemudian sang hati yang telah letih ini mengeluhkan keletihannya pada pandagan, namun apa yang dikatakan pandangan tidaklah seperti yang dia harapkan. Dia mengatakan, “Aku hanyalah sebagai utusanmu dan engkaulah yang mengutusku”

Allah berfirman :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” [QS. An-Nuur : 30-31].

Tentang ayat ini Ibnu Katsir berkata : «Ini adalah perintah dari Allah ’azza wa jalla kepada hamba-hamba-Nya mukminin untuk menundukkan pandangan-pandangan mereka dari perkara-perkara yang diharamkan bagi mereka. Mereka tidak memandang kecuali pada apa yang diperbolehkan bagi mereka dan untuk menundukkan pandangan dari yang diharamkan, apabila kebetulan memandang kepada yang haram tanpa disengaja maka langsung memalingkan pandangannya secepat mungkin” ».

Ibnul Qayyim berkata,

“Pandangan mata ialah cerminan hati. Jika seorang hamba berhasil menundukkan pandangan, akan tunduk pula hati, syahwat, dan ambisi duniawinya. Namun apabila ia mengumbarnya, akan menjadi liar pula hati dan syahwatnya”. @almonajjid -Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, pengasuh web IslamQA. 126

Salah satu manfaatnya yang disebutkan ibnul qoyyim: Akan membukakan baginya pintu-pintu dan jalan-jalan ilmu (muslim.or.id)

sungguh bagus suatu nasihat: kesabaran dalam menundukkan pandangan masih lebih ringan daripada kesabaran dalam menanggung beban sakit setelahnya (muslimah.or.id)

Seluruh malapetaka sumbernya berasal dari pandangan…….dan besarnya nyala api berasal dari bunga api yang kecil

Betapa banyak pandangan yang jatuh menimpa hati yang memandang…..sebagaimana jatuhnya anak panah yang terlepaskan antara busur dan talinya

Selama seorang hamba masih memiliki mata yang bisa ia bolak-balikan (umbar)……maka ia sedang berada di atas bahaya di antara pandangan manusia

Menyenangkan mata apa yang menjadikan penderitaan jiwanya…..sungguh tidak ada kelapangan dan keselamatan dengan kegembiraan yang mendatangkan penderitaan.

 

 

tulisan di atas diambil dari:

http://twitulama.com/post/18426458576/ibnul-qayyim-berkata-pandangan-mata-ialah

http://alhijroh.com/fiqih-tazkiyatun-nafs/3-faidah-agung-menjaga-pandangan/

http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/jagalah-pandanganmu.html

http://muslimah.or.id/tag/menundukkan-pandangan

http://firanda.com/index.php/artikel/7-adab-a-akhlaq/21-jagalah-pandanganmu?start=2

It’s About Love

Gambar

“Dan, bukan mengatakan : ‘Terimalah aku apa adanya..’  Tapi katakanlah,Terimalah aku, aku akan berusaha menjadi yang terbaik semampuku..’”  (Tumblr)

Romantis adalah..
Cemburu yang bagai api. Membuat beku saat tiada.
Menghangatkan ketika tepat ukurannya, dan membakar saat meraksasa.

Romantis adalah..
Katakan pada isteri, “Engkaulah separuh agama, penjaga ketaatanku.”

Romantis adalah..

Ada dua pilihan saat bertemu cinta, jatuh dan bangun.
Padamu kupilih yang kedua, agar cinta jadi istana, tinggi gapai surga. Baca lebih lanjut

Imagine

Gambar

Imagine you were married and pregnant with your first baby.

Imagine as a mother, your body going through a metamorphosis type of change. That thin waist, you no longer have. Those nice hips? Expanding. Your feet? Killing you and becoming swollen. Every single thing about you is changing, going through this to provide you with a beautiful and healthy baby.

Baca lebih lanjut