Bersabarlah

image

Berbahagialah orang tua yang anaknya bersabar atas sikapnya, dan berbahagialah anak yang orang tuanya bersabar atas sikapnya…

ya Allah,

jika hamba kurang sabar terhadap orang tua, maka tambahlah kesabaran hamba ya Allah…
jika hamba masih kurang sabar, maka tambahkanlah dengan kesabaran lagi ya Allah…
tambahkanlah ya Allah, sampai hamba pun tidak sadar yang hamba lakukan adalah bersabar lagi dan lagi… Continue reading “Bersabarlah”

Iklan

Mau Jadi Hadiah Saja

image

Aku tidak mau jadi barang yang dibeli
Yang kau bandingkan dengan barang-barang lain sebelum dibeli
Yang kau sudah tahu luar dan dalam sebelum dibeli
Yang mungkin kau bayar dengan menawar
Yang kalau bisa kau dapat dengan harga paling murah dengan kualitas paling baik
Yang bahkan mungkin kau lupa bersyukur telah bisa membelinya

Aku mau jadi hadiah,
Yang ketika kamu menerimanya kamu merasa senang,
Walau ia kecil, atau besar
Walau kau suka bungkusnya, atau tidak suka
Walau kau tidak tahu isinya
Yang kau tau hanyalah siapa pemberinya, dan kau senang
Ketika kau membukanya kau akan bersyukur
Bahwa kau telah diberi sesuatu

 

Bila Sejenak Meninggalkan Keramaian

Gambar

Betapa nikmatnya bisa fokus belajar, betapa nikmatnya meraih dan bisa menghafal sesuatu yang kita ingin, betapa nikmat tenggelam dalam buku-buku atau konsentrasi mendengarkan file ceramah atau murottal. Bayangkan, sedang konsentrasi, tiba-tiba tergoda untuk membuka facebook dan twitter, melihat status teman, ah bagusnya.. melihat status twit ulama, melihat status radio rodja, radio muslim, statusnya toko ihya, scroll ke bawah lagi, ternyata ada status teman yang begitu menyentuh dan berisi ilmu. Keren sekali… hmmm. Scroll ke bawah lagi, ada ummahat yang share blog bagus sekali, kunjungi ah, klik!

Teman, kita sudah pasti mengetahui bahwa saat ini adalah era digital. Banyak hal dari yang dulunya tidak bisa kita dapatkan secara digital, kini dengan mudah dapat kita raih. Seiring kemudahan-kemudahan yang kita dapat, kita pun melupakan bahwa ada dampak-dampak yang dibawa oleh perubahan tersebut telah mempengaruhi diri kita. Di dalam bukunya “24/7: How Cell Phones and the Internet Change the Way We Live, Work, and Play“, Jarice Hanson menyebutkan bahwa tak dapat dipungkiri bahwa teknologi komunikasi membuat hidup menjadi lebih mudah dan cepat, tetapi yang terjadi adalah tingkat stress yang disadari atau tidak menjadi bertambah. Semakin banyak pilihan yang kita temui, internet, aplikasi-aplikasi android, smartphone, dan lainnya, membuat ‘kegiatan’ kita bertambah, tepatnya kegiatan otak kita. Continue reading “Bila Sejenak Meninggalkan Keramaian”

Kunci Gerbang Itu: Membaca

Gambar

Menyadari bahwa dengan membaca gerbang itu akan terbuka..

Luasnya ilmu, dalamnya pemahaman, nasihat hidup…

Dan jika kita belum benar-benar ingin membuka kunci gerbangnya…

Untuk apa lagi kunci itu dibuat…

Apalah lagi yang menunggu kita tuk segera memulai memegang kuncinya… gerbang itu tak kan lama, tak kan jauh, tak kan bosan tuk menunggu para pembuka kunci…

Bersemangatlah…  : )

#inthemorning sedikit lega, sedikit menikmati waktu menunggu untuk menulis si dia lagi #alhamdulillah

Teman Ngobrol Seumur Hidup

So Which Blessings of Your Lord Will You Deny~?

coffee you and me..

“Tentu saja memiliki teman bicara yang asyik, berilmu, berbobot, dan jenaka bisa membuat hari tuaku lebih hidup. Kamu akan menemukannya jika lebih membuka mata hati daripada mata kepalamu.”

Dulu sewaktu masih remaja tanggung, sebagai laki-laki yang sedang tumbuh remaja. Aku selalu menyukai perempuan lantaran parasnya yang cantik, suaranya yang merdu aduhai, pada kulit putihnya yang bersinar seperti keramik di lantai sekolah, pada matanya yang tajam menusuk-nusuk ulu hati.

Lihat pos aslinya 374 kata lagi

Daun Kering

Di balik jendela tak bersekat, banyak daun berguguran. Kuning, kering. Mereka jatuh begitu saja. Memberikan pemandangan indah bagi kami, yang melihatnya. Daun itu, mengapa ia terjatuh dari sana? Atau dari sisi sebelah sana? Atau dari sisi yang paling jauh itu? Adakah dzat yang mengetahui setiap daun yang hendak jatuh? Mungkinkah daun itu jatuh begitu saja sesuai kehendak daun tersebut? Sungguh hal yang mustahil. Tiap daun yang kulihat, tentulah Allah yang mengirimkan daun tersebut untuk kulihat. Tentulah Allah yang menjadikan setiap daun itu jatuh dengan indahnya.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-Anaam[6]:59)

Diselesaikan 9.23 WIB | Kamis, 24 Oktober 2013 |

Etnografi

Pengumpulan Data Etnografi

Tugas utama kedua dalam siklus penelitian etnografi adalah pengumpulan data etnografi. Dengan cara observasi partisipan, anda akan mengamati aktivitias orang, karakteristik fisik situasi sosial, dan apa yang akan menjadi bagian dari tempat kejadian. Selama pelaksanaan pekerjaan lapangan, apakah seseorang mempelajari sebuah desa suku tertentu untuk satu tahun atau pramugari pesawat udara untuk beberapa bulan, jenis observasi akan berubah. Anda akan mulai dengan melakukan observasi deskriptif secara umum, mencoba memperoleh suatu tinjauan terhadap situasi sosial dan yang terjadi di sana. Kemudian setelah perekaman dan analisis data awal Anda, Anda dapat mempersempit penelitian Anda dan mulai melakukan observasi ulang di lapangan, Anda akan mampu mempersempit penyelidikan Anda untuk melakukan observasi selektif. Walaupun observasi Anda semakin terfokus, Anda akan selalu melakukan observasi deskriptif umum hingga akhir studi lapangan Anda. Tiga jenis observasi ini berhubungan dengan tiga jenis pertanyaan etnografi.

Pembuatan Rekaman Etnografi Continue reading “Etnografi”

Bahagianya Idul Adha

Tongseng Sapi dan Gulai Kambing di sebelahnya

Idul Adha selalu menarik hati dan membuat hati senang. Bagaimana tidak, di Hari Raya Islam ini umat Islam di seluruh penjuru tempat berkumpul untuk sholat, lalu berbagi daging sapi dan kambing dan dibagikan kepada sesama. Memberikan kebahagiaan kepada setiap orang, mengajari bersyukur, dan lain sebagainya. Seperti yang terjadi hari ini di Masjid Pogung Raya. Sholat ied dimulai pukul 6.30 pagi. Meskipun demikian ‘rombongan’ kami sampai kurang lebih 45 menit sebelum sholat dimulai. Tikar digelar oleh para panita idul adha, kami langsung berpencar mencari tempat di samping para tetangga-tetangga Pogung. Hampir setiap tempat telah terisi sejauh mata memandang. Orang terus berdatangan hingga sholat hampir dilaksanakan.

Mengesankan adalah, baru kali ini mendengar imam mengingatkan warga cara untuk merapatkan shaf, yaitu merapatkan kaki kita dengan kaki sebelah kita. Cara ini bisa langsung dipraktekkan, karena jelas sekali. Baru saat itu juga, saya pribadi merasakan sholat ied yang shafnya bisa rapat seperti itu, kaki saling bersentuh.

Pagi itu pun, rasanya sedikit merinding. Saat imam mengingatkan dengan mic, “Kepada seluruh kaum muslimin hendak segera menuju masjid karena sholat segera akan dilaksanakan. Bagi yang sedang berhalangan agar tetap datang ke masjid.” Pasalnya, kapan lagi umat islam berkumpul menjadi satu di satu tempat kalau bukan saat sholat idul adha atau idul fitri seperti itu.

Setelah sholat ied, kurang lebih satu jam kemudian, beberapa dari ‘rombongan’ kami kembali ke masjid untuk melihat pemotongan hewan kurban dan mungkin bisa untuk membantu memotong dagingnya. Betapa bahagianya mereka, semua, yang di masjid itu. Menyaksikan pemotongan, para shohibul Qurban yang berbahagia karena bisa berbagi. Para remaja yang turut membantu banyak, ibu-ibu yang memotong daging, memasak, menyuguhkannya di piring, dan mencucinya, para laki-laki dewasa yang menyembelih dan menguliti serta membersihkan dagingnya. Semua bekerja. Indahnya saat-saat itu. Kadang canda tawa anak-anak kecil terdengar, mereka pun berlarian, juga kebahagiaan mereka bisa berkumpul bersama keluarga mereka di masjid itu, melihat sapi dan kambing mereka dipotong, atau daging yang akan mereka peroleh nanti. Tak ada kekhawatiran yang kami rasakan, yang ada adalah bahagia karena bisa berbagi, berkumpul, dan makan bersama para tetangga.

Sungguh pemandangan yang patut untuk disyukuri. Mengingat saudara dan saudari kita di Suriah atau di belahan bumi manapun yang sedang kesulitan, entah apa yang mereka rasakan saat idul adha ini. Semoga mereka bisa juga merasakan kebahagiaan yang seperti kita rasakan, walaupun dengan porsi dan rasa yang mungkin berbeda. Tak dapat dipungkiri, kita mendapatkan banyak sekali kenikmatan di Indonesia ini, berupa keamanan dan ketentraman menjalankan islam. Sungguh, ini bukan waktu untuk berleha-leha, ketika kenikmatan dan kesenangan itu nanti dipertanggungjawabkan.

“Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Taha [20]: 131)

Diselesaikan 21.52 WIB | 15 Oktober 2013 | Pogung Dalangan, Yk

MyDream about Study: Creating Library

Membuat sebuah perpustakaan mini di dalam rumah menjadi suatu mimpi yang baru saja tercetuskan. Berawal dari skripsi, mulai menyadari penting arti ‘tempat’ untuk fokus mengerjakan sesuatu. Perpustakaan, di mana isinya adalah orang-orang yang membaca, dan sedekat mata memandang terlihat buku-buku yang tersampul, memberikan keinginan tersendiri untuk menelaah buku-buku tersebut di ruangan tersebut.

Bagi saya, sebuah perpustakaan bisa berarti banyak jika ada hal-hal penunjang yang tidak hanya buku. Tempat belajar itu sangat bagus jika memiliki ventilasi yang baik, jendela yang cukup luas untuk memandang ke luar ruangan. Ia akan memberikan suasana tertentu untuk tidak tertekan saat membaca, serta cukup ada ruang untuk meletakkan buku-buku. Dengan jendela, rileks, jika kita bisa memandang kehijauan atau pun birunya langit di luar sana. Mungkin saking nyamannya, tak segan untuk tertidur di atas meja karena menikmati proses belajar. hmmm baiklah mungkin gak gitu juga sih ‘)

Selain ventilasi yang baik, ruangan harus se simple mungkin agar pikiran terbiasa fokus. Tak perlu ornamen-ornamen njelimet, mungkin hanya butuh satu saja titik fokus di ruangan tersebut. Meja juga, yang biasa saja, simply square, dengan beberapa kursi tetapi tidak banyak.

Ruang perpus dengan lemari buku yang tidak boleh berlapis kaca. Agar kedekatan dengan buku lebih terasa, bisa langsung melihat dengan jelas dan langsung ambil. Tinggal setelah itu mengatur budaya membaca. Siapa sih yang tidak suka jika keinginan membaca ditunjang dengan tempat yang nyaman dan … segelas minuman hangat ; ). Toh mungkin saja tidak mahal, hanya perlu nyaman. Di sana akan mulai bakat-bakat timbul, menelaah dan membaca, atau mungkin… menulis? : )

Sekarang ini banyak kita temui rumah-rumah yang ruang keluarganya sangat-sangat nyaman dengan kehadiran TV lengkap dengan sound systemnya, dan sofa yang empuk. Tetapi, tidak memperhatikan ruangan belajar. Jika demikian, setiap orang pun dalam alam bawah sadar akan menyadari bahwa ‘lebih penting untuk berada di ruang keluarga’ daripada di ruang belajar. Ya, hanya bahan introspeksi, bukan berarti meniadakan ruang keluarga. i’m not talking about that : )

Mencoba membuat versi homestyler.com, mungkin perpus yang baik versi saya bisa di-visualisasi-kan dengan gambar ini: ^^

576b263c-bec0-4aba-8fdb-a442c5bb539f-snapshotdb6c97b8-c29a-4413-9da5-250d0a05903e-snapshot7932c4ee-6567-40ac-a771-fb3a16de41fd-snapshot