Sahabat?

Sahabat. Mungkin yang terlintas di benak kalian sahabat adalah orang yang selalu bersama dalam suka dan duka, atau saling menasehati dalam kebaikan, amar ma’ruf nahi munkar. Banyak sekali pengertian sahabat, dan pastinya tiap orang punya pengertian sendiri-sendiri tentang makna apa itu sahabat. Dan juga bisa jadi pengertian yang diutarakan, berbeda dengan pengertian sahabat yang dia alami sehari-hari. Yah, kadang lisan itu mudah, tapi perbuatan itu sulit. Dan non verbal itu sangat jujur, sikap kita lah yang dinilai dan masuk sebagai respon dari orang lain, bukan tutur kata kita. Ya, tutur kata yang lembut bisa berpengaruh, tetapi bahasa tubuh hampir tidak pernah bisa bohong… Serem ya, jangan sampai kita bersahabat dengan orang, tidak ikhlas.. Aku juga belajar, bahkan terus belajar. Masih banyak kekurangan, masih belum bisa jadi sahabat yang baik.

Seumur-umur, aku melewati beberapa fase bersama sahabat. Dan dari sekian sahabat, yang masih bertahan hanya satu. Dialah yang tau aku itu seperti apa. Meski kita berbeda pulau sekarang, tapi masih janjian untuk bertemu untuk mengobrol. Sama-sama tidak berani bilang ‘sahabat’ tentunya. Dari dulu kami tidak pernah memaknai ‘sahabat’, tapi kami merasa menjalani sahabat dalam arti sesungguhnya. Sampai sekarang pun, jauh di lubuk hati terdalam, masih sama seperti dulu. Seorang sahabat yang walau sahabatnya berbuat kesalahan, cintanya tidak berubah, justru ingin memperbaiki. Seorang sahabat yang walau sahabatnya jauh darinya, cintanya tidak berubah, justru semakin merindukan.

Jadi inget, kita itu tidak pernah sekalipun marahan. Melihat persahabatan teman-teman lain yang penuh lika-liku pertikaian, putus sahabat, nyambung lagi, kadang sebel di SMA. Kita jadi bingung, kenapa kita tidak pernah dendam, merasakan hal-hal berat, saling curiga, atau bahkan perasaan kesal. Tidak pernah. Istilahnya ‘no hard feeling’. Dan itu benar-benar terjadi. Kalaupun ia berbuat sesuatu yang dinilai oleh orang lain sebagai sesuatu yang menyinggung perasaan, maka kami dalam hati saling memberi udzur. No hard feeling. Nikmatnya… Hmm kalaupun ada rasa, mungkin cemburu lah perasaan itu. Cemburu itu ku akui pernah, kalau ia asik bersenang-senang dengan teman lain tapi aku ga diajak. (hahaha anak kecil banget yah).

Itulah yang dicari, perasaan seperti itu. Nikmatnya, jika setiap orang yang kita temui bisa seperti itu rasanya. Hati bakal plong~ Jiwa puas, dan jiwa bersenang-senang atas kebaikan hati menjadikan saudari kita seperti itu.

Yaaah, memang saat ini aku masih belajar, belum bisa jadi sahabat yang seperti itu di mata orang lain. Tetapi yakinlah, raihlah. Bukan sikap orang lain yang membuat kita seperti itu, tetapi hati kita saja. Nah kalau sudah klop dengan orang, biasanya susah melupakan, susah nggak ngobrol, pingin banyak cerita dengan dia, dsb. Dan itu belum kutemukan lagi, siapa kah orangnya….hehe..

Jangan letakkan sahabat itu di tangan, tetapi letakkan di hati. Sehingga kemanapun ia pergi, tetap setia dan ada bersama kita. Kita tidak rakus akan keberadaannya di samping kita. Yakinlah, di mana pun sahabat kita berada sekarang, Allah kan menjaganya untuk kita. Kita tak kan kehilangan bagian yang ditakdirkan untuk kita.

Pun, orang lain yang belum bisa menggantikan kedudukan sahabat itu, suatu saat dapat mewarnai makna sahabat dalam arti yang baru lagi. Tanamkan dalam hati, katakan “wahai muslimah, kuingin menjadikanmu sahabatku. Tidak membandingkanku dengan sahabatmu, dan engkau takkan kubandingkan dengan sahabatku. Karena engkau adalah engkau, yang spesial dan unik yang memang diciptakan Allah ada dan ditakdirkan Allah bertemu denganku saat ini. Alhamdulillah… <3″

Ah, sudah dulu, melanjutkan yang terbengkalai dari tadi pagi,

karena tertarik dengan blog~

Wisma~already sleepy

20.38

Iklan