Lebaran 1433 H :D

Sebenarnya lebaran kemarin begitu mengajarkan banyak hal padaku, atau mungkin sebagian dari keluargaku (?). Entah, yang jelas, tidak setiap moment lebaran betul-betul berjalan mulus dan lancar.

Pengalaman aku dan adikku, Farah, berduaan dengan koper yang tidak bisa dibilang sedikit, karena Farah sekarang sudah kuliah, jadi dia memindahkan isi kamarnya ke kamar baru, di Surabaya. Sebenarnya aku tidak apa-apa, justru aku kasian lihat papa-mama-dan-Farah. Papa dan Mama mesti mengurus banyak hal, tiket keberangkatan mendadak karena kita beda destinasi serta mengantar kami ke stasiun di waktu yang mepet. Kapan istirahatnya. Farah, di masa seperti ini aku kasian karena Farah hanya ditemani oleh aku, hehehe. Tapi setidaknya kami jadi menghabiskan banyak waktu berdua selama travelling Jakarta-Surabaya-Malang. Menghabiskan moment-moment indah kesepian dan terasing, dua gadis jelita yang kepayahan dengan kopernya. Membayangkan di mata adikku aku diperas oleh porter yang membawa barang karena tidak mau menawar dan membayar dua-puluh-ribu untuk koper-koper besar itu. 😛

Sehari di Surabaya, kami harus ‘bertahan’ dengan berbagai keadaan #lebay. Di Batu, saat Farah tidak tahan dengan tai cicak. Bersama om tante dan sepupu menyusuri dinginnya Batu lalu ke Pasar Senggol. Di Malang, kami ‘ngebolang’ naik angkot berdua dengan bekal ‘ingatan’ saat dulu naik angkot sama Mama. Kami ke MOG (Mall Olympic Garden) yang letaknya jauh sekali ternyata, hahaha. Dan sampai Mall itu kita cuma makan. Di Malang yang biasanya cuma sehari-dua hari, lalu biasanya seringnya pergi-pergi, saat ini kami sering di rumah, sampai rasanya sudah jadi rumah sendiri. Melihat suasana ‘real’ rumah kakek-nenek ketika sepi tamu. Kami jadi tau berbagai kisah (kasih?) datuk dan ibu. Sungguh romantis sampai kakek-nenek. Ibu sungguh pengertian dan sabar merawat datuk. Malam-malam datuk terbangun pun diladeni oleh ibu, ditanya keperluannya apa padahal ibu sudah tau datuk mau ngomong apa.

Keadaan (banyak) berubah ketika Abang dan Kakak Ipar datang ke Malang. Kami menghabiskan banyak waktu bersama :’) Paling tidak tahan kalau sudah jam makan, pastilah bang Afin dan kak Dyah mengajak kami makan ditempat yang enak. Heheheh. Walaupun begitu, kami tetap akan makan di rumah ibu, karena ibu sudah masak jadi disuruh makan lagi. >,< Bayangkan bagaimana perut kami saat itu! Di Surabaya pun begitu, abang dan kakak seperti bulan madu lagi, jadi aku dan Farah juga kena imbas, hehehe. Ditraktir makan di tempat-tempat yang enak. Mungkin ini nikmatnya belakangan ya, setelah berpahit-pahit di awal.

Banyak pemandangan yang sayang dilewatkan. Tentang Ampel dan segala ‘adat’nya. Aku berasa di pemukiman di Arab. Lalu tidak jauh dari kawasan tersebut masuk ke pemukiman Madura. Menembus pasar ikan di mana potret kehidupan pekerja-pekerja, pedagang-pedagang, dipotret dengan pemandangan yang sangat apik karena tersempil di antara bangunan-bangunan tua khas Belanda. Melihat bangunan langgar yang kata Abang sudah ratusan tahun. Menengok Masjid Cheng Ho yang penuh dengan nuansa merah. Kalau takut, jangan mencoba becak Ampel. Kecepatannya membuat logika ‘kapan harus ngerem’ dan ‘apakah akan berhenti jika di-rem’ tidak berfungsi. Memasuki Ngguba, kawasan pasar menjual berbagai macam barang-barang khas Arab, membuat kita seperti kembali ke masa silam. Tidak lupa, mungkin hampir 80% bangunan mereka masih asli jaman Belanda. Ketika malam datang, jalanlah di sepanjang jalan KH Mas Mansyur, dan di sana akan banyak makanan sepanjang jalan, jajanan ‘aneh’ dan nikmat ada di sana. Eksotis. 🙂

Ke Batu, jangan melewatkan Jatim Park 2, ada Batu Secret Zoo yang luar biasa indahnya, karena banyak hewan yang langka di sana. Aku paling suka Tikus Amerika, bentuknya lucu seperti landak, dan Meerkat yang menoleh dan menghampiri ketika didekati 😀 Juga masuk ke museum satwa, dan tidak jauh dari situ terdapat Eco Green Park. Sayang, waktu itu tidak sempat ke Eco Green Park, padahal tiket kami adalah tiket masuk ke-tiga tempat tersebut. Bekal paling penting yang mesti dibawa ketika ke Jatim Park 2 adalah : KAKI, serta air mineral juga makanan untuk mengganjal perut.

images

Cahaya di Atas Cahaya

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di  dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak di sentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  (An-Nur [24] : 35)