Sebuah Buku dari NBC

Kemarin secara tidak sengaja saya menemukan sebuah buku menarik saat berada di NBC (Nation Building Corner) di kampus saya. Pada awalnya saya tertarik karena melihat isi dari buku ini yang membahas masalah sosial namun banyak menyajikan gambar, berbeda dengan buku-buku sosial yang lain yang jarang sekali menampilkan gambar-gambar.

Namun setelah membaca sekilas isinya pada bab awal, saya menjadi semakin tertarik. Buku ini mencoba menjawab permasalahan sosial tanpa membatasi ruang lingkup pemecahan masalah dari sisi sosial saja, melainkan juga membawa teori-teori alam seperti teori milik Sir Isaac Newton yang merupakan salah seorang perancang cabang matematika yang telah membuat berbagai model sains modern seperti kalkulus.

Selain itu, buku ini tidak berat dibaca oleh orang yang bukan berasal dari ranah eksak. Buku ini sangat ramah dibaca oleh orang sosial seperti saya 😛 Banyaknya gambar juga membantu menerjemahkan apa yang ingin dikatakan penulis, serta banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari, seperti ketika penulis mendeskripsikan bahwa kehidupan sosial adalah seperti film Janji Joni, kita tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi kemudian karena kehidupan sosial sulit untuk bisa ditebak, bersifat abstrak.

Buku ini berjudul “Solusi Untuk Indonesia” karya Prof. Yohanes Surya dan Hokky Situngkir.

Di sini penulis mengatakan bahwa Rene Descartes (1596 – 1650) mengeluarkan tradisi filsafat ilmu pengetahuan yaitu memecahkan masalah rumit dalam kepingan-kepingan sehingga dapat ditarik pemahaman perilaku keseluruhan dari sifat bagian-bagiannya. Hal ini seperti yang disampaikan di kelas-kelas komunikasi, bahwa deduktif mencoba menguraikan permasalahan dari umum ke khusus. Mungkin ini berasal dari Rene Descartes? Seorang filsuf perancis? Menurut penulis buku menarik ini, pemikiran seperti ini seperti mengkotak-kotakkan pengetahuan.

Buku ini memang sangat menarik dan tidak membosankan. Membuka pikiran saya bagaimana me-logika-kan otomata selular, sesuatu yang berkaitan dengan sistem komputasi. Penemunya adalah Alan Turing, nama alatnya pun kemudian bernama Mesin Turing. Secara garis besar, mesin turing akan membuat sesuatu dapat digambarkan dan dijelaskan dengan beberapa perintah sekaligus. Dengan membuat sejumlah perintah, maka Mesin Turing akan membacanya sesuai perintah tersebut. Hal ini akan dapat memecahkan banyak permasalahan, sesuai dengan perintah yang diberikan.

Semakin mendalam membaca buku ini, kadang merasa buku ini menarik dan kadang merasa buku ini tidak manusiawi. Menarik karena manusia juga berasal dari alam, sehingga bisa jadi permasalahan sosial akan dapat dipecahkan dari teori-teori alam. Tetapi tidak manusiawi juga, karena menguraikan masalah melalui angka-angka serta teori hitung menghitung dan mencoba mematahkan teori-teori sosial yang tidak dapat dihitung probabilitas kebenarannya dengan teori hitung menghitung yang jelas-jelas bisa diukur dengan hasil pasti.

Sebenarnya penulis buku ini menjelaskan bahwa yang sedang dibahas adalah ekonofisika. Ini adalah tentang bagaimana ekonofisika (mungkin ekonomi dan fisika ya?) dapat menjawab permasalahan sosial, ekonomi, dan politik. Untuk hal ini, penulis mencontohkan tentang air. Air merupakan material yang dapat bertransisi kepada bentuk lain. Dalam mekanika statistik, peralihan ini disebut transisi fasa.

Dari buku ini saya juga jadi mengetahui bahwa terdapat sifat kemagnetan yaitu ferromagnetik dan paramagnetik, juga struktur kristal yaitu polymorphs atau allotropes. Di dalam buku ini sifat-sifat tersebut dijelaskan bahwa sifat tersebut juga dapat menjadi bentuk peralihan seperti air menjadi gas, atau air menjadi es batu.

Buku ini juga telah menjelaskan perbedaan teori dan hukum. “Hukum” digunakan ketika sebuah fenomena ditemukan berdasarkan hasil eksplorasi dari data empiris. Hmm, ini seperti di kelas komunikasi saja. Empiris berasal dari kata empiri yaitu panca indera. Sesuatu yang tidak perlu dibuktikan lagi karena sudah dapat dibuktikan semua orang, maka dari itu analisisnya diperinci dengan hitungan-hitungan atau disebut kuantitatif, karena tidak perlu dijelaskan lagi dalam pemaknaan yang mendalam. Hasil survey dalam bentuk kualitatif hanya mendukung apa yang ditemukan pada kuantitatif, sehingga empirisisme tidak bisa dipertukarkan dengan rasionalisme. Begitu kata mas wisnu di kelas.

Kembali lagi, bahwa “hukum” adalah hasil empiris sedangkan “teori” belum dapat dibuktikan kebenarannya. Di buku ini penulis menyebutkan ada Hukum Archimedes, tetapi bukan Teori Archimedes; ada Teori Relativitas Einstein, tetapi bukan Hukum Relativitas Einstein.

Iklan