(mimpi orang yang tinggal di kota)

Aku ingin menempuh jalan baru.. bertemu wajah-wajah baru.. merasakan angin, awan, hujan, bunga-bunga di taman, melihat burung, bintang, kunang-kunang, mendengar suara ayam, sapi, kambing, dan kerbau.. menanam jagung, cabe, kacang, dan pisang.. Naik unta, kuda, dan gajah..

Bergelayutan di akar pohon, menggiring bebek dan kambing, memandikan sapi.. Aku ingin di pantai, menyentuh air, merasakan deburan ombak.. melihat ke laut, melihat senja, hanya melihat…

 

(to be continued – – ‘ )

Cacat itu Tidak Cacat

Orang cacat sekalipun itu sempurna. Karena tidak ada satupun makhluk yang diciptakan tidak sempurna oleh Allah. Hanya manusia saja yang melihat itu sebagai sebuah ‘kecacatan’. Jadi, cukuplah kita menganggap bahwa diri kita sempurna 😀 Tidak perlu menganggap kita tidak bisa mencapai sesuatu karena takdir yang sudah lengket sama diri kita. 🙂

Orang yang cacat sekalipun kadang kita lihat banyak yang berhasil. Itu karena tidak menganggap cacatnya sebagai sebuah penghalang. Kadang kita yang menganggap diri sempurna secara fisik juga kadang tidak berhasil -__- iya kan? Nah lo, kalau sudah begini tidak perlu ambil pusing soal takdir yang kita miliki. Jadi mengapa oh mengapa? Selamat berpikir kenapa bisa begitu. Selamat berjuang di arena balap 🙂

 

Hari Libur: Mengunjungi Panti Asuhan Balita

Akhir-akhir ini kehidupanku entah mengapa dihiasi dengan bayi-bayi. Padahal sebelumnya boro-boro berkecimpung bersama bayi, menggendongnya saja tidak pernah.

Hari ini kebetulan Senyum ada acara ke panti asuhan balita, menyampaikan amanah untuk menyalurkan mainan ke anak panti hasil JazzSmile beberapa bulan yang lalu. Lucu-lucu sekali bayinya, orang tua macam apakah yang tega menelantarkan mereka? Semoga alasan meninggalkan bayi ini benar-benar tidak bisa dihindari bukan karena hal sepele.T.T

Dekapan ibu bapak serta ASI eksklusif ibunya nanti bagaimana? Jagoan paling muda di panti ini baru berumur dua minggu, bentuknya masih sangaaat kecil dan merah, melek saja masih butuh perjuangan, huks. Hey, umur si jagoan ini baru setengah bulan di dunia, tanpa orang tua 😐 Subhanallah.

Di sini banyak belajar untuk mengajari sesuatu, dan belajar dari kesabaran ibu-ibu asuh, karena tidak sedikit, ada 22 bayi jumlahnya. Kalau pengalaman berharga kali ini adalah melihat embak2 membersihkan pipis dan eek bayi (sungguh baru pertama kali lihat) 😀

Oh iya kalau ingin menyumbang sesuatu ke panti asuhan balita, lebih baik mengecek dulu mereka kebutuhannya apa. Kadang ada panti asuhan balita yang memilki persediaan makanan berlebih dari donatur, tapi kekurangan uang untuk membeli keperluan lain misalnya. Sebaiknya sih dalam bentuk uang saja daripada uangnya kita yang membelanjakannya.

Alpin (Apen) dan Surya yang manis-manis + ganteng sejak kecil. dipangkuan mama

Semoga ada kesempatan ke sana di lain waktu 🙂

Puisi Untuk Bayi

well i miss that baby,

senyumnya senyum kecut dari kejauhan sambil mengernyitkan dahi, mesem-mesem, belum bisa ngomong.

tiba-tiba jalan ke arahku yang sedang duduk sila

….

dan bayi ini langsung duduk nyaman di pangkuan.

….

tiba2 hangat.

…..

……..

nyaman sekali diduduki bayi!

😀

Surat ini Untuk Seseorang :)))

Aku rindu saat kita masih polos..

Aku rindu saat obrolan pertama kita di KIR saat disuruh membuat karya ilmiah adalah membuat keripik upil..

Kita membicarakannya secara serius, mulai dari proses menggepengkan hingga proses menjemur, digoreng, dan dikemas -,-

Itu obrolan pertama kita, walaupun menjijikkan, disitulah, lalu dimulai petualangan kita menempuh bangku SMA

Kamu dan aku benar-benar easy going, kemana-mana gampang, tidak malas berjalan

Ingatkah pekerjaan kita? mengelilingi sudut2 sekolah hanya untuk mengecek, dan berpetualang

Menyusuri lantai 3, ke kelas-kelas, lalu lantai 2, lalu lantai 1. kalau capek kita pulang.

Ingatkah, saat kita suka sekali pelajaran seni musik, sehingga “ruangan itu” di lantai 3, sering kita hinggapi diam-diam

Kita suka duduk-duduk di bangku bermimbar depan ruang musik, sambil menunggu bel berbunyi, mengobrolkan ini dan itu, sambil berharap pak Arief membuka pintu dan membolehkan kita masuk ruangan itu

Walaupun sangat jarang, bahkan ternyata tidak pernah mengajak -,-

Yang ada pak Arief mengenal kita, sebagai 2 gadis, dari Padang dan dari Surabaya, yang dikatakan bahwa kamu akan berjodoh dengan pria tanah jawa dan dan aku dengan pria tanah sumatra 0_0 Suatu hal yang aneh, mengingat saat itu kita masih polos dan unyu.

Aku rindu saat kita masih polos…

masih menikmati mencoret-coret gambar wajah di majalah, menikmati jalan cepat di koridor2, menikmati mengikuti orang dari belakang karena kita anggap orang itu unik dan ingin berkenalan.

aku menikmati saat kamu dan aku berimajinasi, seolah imajinasi kita disatukan dalam frame besar.

aku belum bisa lupa imajinasi kita, tentang balas budi ke Aldino jika ia mau membantu kita mengerjakan matematika.

kalau hari jumat, setiap melihat senam sebelum masuk kelas dari atas koridor lantai 3, tidak bisa tidak tertawa lihat orang yang sedang senam. gampang sekali kita tertawa yah 🙂

aku rindu saat kita masih polos…

ingatkah, kamu adalah penerjemahku, dan aku adalah tools bagimu untuk berekspresi. hahaha (tepat gak nih?)

kamu mengerti seluruh maksud yang aku utarakan, bahkan sangat mengerti. aku heran, kenapa kamu selalu ngerti apa yang aku bicarakan.

aku masih ingat, setiap aku mau ngomong sesuatu ke Fachri dan Gallant, selalu lewat kamu dulu, lalu kamu yang menyampaikan pada mereka.

Aku belajar banyak, tentang komunikasi dari kamu. Saat ini, aku bersyukur bahwa ini jalan hidupku. Saat ini, aku tidak seperti dulu dalam berkomunikasi, telah banyak hal yang berubah.

aku rindu saat kita masih polos…

bahkan kata “nu” saja bisa kita tertawakan..

bahkan orang berjalan bisa kita tertawakan..

bahkan orang yang tidak ngapa2in kita tertawakan.. -,-

sepertinya selalu tertawa kita, kecuali saat-saat ujian.. juga saat kita nangis malam itu, karena kamu alhamdulillah pada akhir perjuangan itu bisa masuk IPA, dan aku ternyata masuk IPS.

masih aku ingat, saat kita selalu bercerita tentang masa depan kita. kamu mau jadi dokter, aku mau jadi arsitek.

alhamdulillah, kamu otw sekarang jadi dokter (aku sgt senang : D), walaupun aku tidak jadi arsitek, tapi aku bersyukur karena jalan hidup yang sekarang..

aku masuk IPS, dan mencoba menyenanginya, tentu jadi jalan hidup dan pelajaran berharga yang aku alami, mungkin tidak semua keinginanku diproses secara cepat, aku bisa yakin ini untuk kebaikanku sendiri.

Mimpi kita dulu adalah mengejar ilmu dan cita-cita masing2 setinggi mungkin. Kamu bisa mendefine mimpimu dengan jelas, bahkan kulihat sendiri saat ini kamu telah pada tapak-tapak yang dulu kamu buat, dan konsisten, ingin menjadi dokter spesialis.

Aku sepertinya lebih exploratif, ingin mencoba ini dan itu, berganti mimpi ini dan itu, tidak bisa mendefine mimpi sejak mimpi pertama ku jadi arsitek tak berhasil, tapi percayalah aku masih suka hal2 berbau arsitek.

Percayalah aku punya banyak mimpi, saat ini aku tidak terlalu berubah, masih suka jalan-jalan (jalan kaki), hanya saja di sini agak takut jalan-jalan sendiri, sebenarnya banyak gedung yang sudah lama ingin dijelajahi.

ingatkah mimpi yang pernah kita bicarakan, last time when we turned to 19th, take a trip ke luar negeri bersama, kalau sudah punya suami masing-masing. xD

inilah kita sekarang, mungkin tidak lagi membicarakan hal-hal konyol seperti dulu, tidak lagi polos. Sama-sama dewasa, sudah mulai membicarakan tentang masa depan sebagai seorang wanita . Kita hari ini, semoga bisa berevolusi menjadi mbak-mbak yang menyenangkan, tetap unik dan tidak seperti orang kebanyakan, selalu passionate terhadap sesuatu, dan lebih dewasa lagi menerima satu sama lain =)))ahoyyy!

Pada akhirnya aku mau bilang……………….Welcome to the second journey! masa pra-dewasa yang menyenangkan! : D

Masa Kecil Manusia-Manusia

Hari ini aku 4 jam berada di PAUD untuk membantu jaga bayi, interaksi, sekalian observasi. Bayi itu sifatnya menerima apa saja bentuk perasaan yang disampaikan kepadanya. Senang diajak ngobrol ketika kita bertanya hal-hal yang mereka ngerti. Bayi itu anti-penolakan. Sebisa mungkin aku menghindari kata-kata interogasi seperti kata, “kok ……….” (mempertanyakan hal yang dipilihnya). Alih-alih dijawab, bahkan anak kecil akan diam seribu bahasa, kalaupun menjawab dia tetap tidak senang. Lebih seru menanyakan “mengapa …..”, biasanya nanti jawabannya lebih panjang dan semakin menarik percakapannya.

Ketemu bayi-bayi menerjunkan pikiranku kepada masa di waktu aku kecil. Apa ya yang dikatakan orang dewasa kepadaku pada saat aku kecil sehingga aku bisa jadi seperti ini, tapi sayangnya aku tidak bisa ingat. Pertanyaannya jadi berubah, mengapa kita tidak ingat masa kecil kita?

Kalau dipikir-pikir, kenapa kita tidak ingat masa kecil, padahal itu masa keemasan yang diberikan Allah kepada manusia. Masa keemasan manusia itu umur 0 – 5 tahun, selebihnya akan terus berkurang hingga dewasa. Apa hikmahnya? Hikmahnya adalah kita tidak terlalu “sakit” saat dewasa, karena mungkin saat kecil bukanlah penghargaan yang kita terima melainkan kata-kata yang tidak menghargai.  Kalau kata-kata bagus yang kita terima, tentu akan jadi cambuk motivasi sampai dewasa. Tapi kalau kesedihan yang kita dapatkan, betapa sulitnya hidup kita setelah-setelahnya jika masih saja teringat kata-kata masa kecil dulu.

Laa Taghdab, wa lakal jannah…

Hal yang paling disayangkan adalah jika ada orang dewasa yang berbohong kepada anaknya. Seharusnya, sebagai orang dewasa nanti kita punya prinsip anti-bohong sama anak. Anti-bercanda yang mengandung unsur bohong sama anak. Kalau pun kenyataan emang pahit, dijelaskan berulang kali agar anak mengerti dan lebih paham kehidupan. Dan yang lebih penting, bisa tidak ya jika orang tua tidak marah sama anak jika tidak menyangkut agama atau hal-hal yang memang anak patut dimarahi, alih-alih marah, seharusnya membiasakan diskusi sebelum bertindak, jadi bisa gampang deal-deal-an misalnya aja kalo anak minta beli sesuatu yang mahal sementara itu masih belum boleh. Semacam dengan diskusi anak ini mendapat pengertian mengapa itu tidak boleh tanpa menyakiti hatinya. 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang sahabatnya,
لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ.
Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga. [Shahîh Ibni Hibban dengan at-Ta’liqâtul-Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibban.]

Semoga Allah melindungi kita ya, pastilah kita ingin menjadi salah satu makhluk penghuni surga-Nya…

it’s not that hard ririn, let’s try..

image

Hari ini adalah hari pertama magang di penitipan balita rumah sakit sardjito. Sampai di tempat penitipan balita di sambut belasan bayi bergeletakan di lantai halaman muka. Oh iya aku magang karena ada mata kuliah yang mewajibkan untuk magang, dan aku memilih untuk magang di tempat penitipan anak untuk mempelajari karakter serta bagaimana bayi dalam kemasyarakatan. Jadi ketika aku datang mereka sedang main-mainan menyusun balok. Ternyata ibu yang memiliki tempat penitipan anak ini menyambut antusias, kami mengobrol di tempat terpisah sekitar 1,5 jam! lama juga ya ngobrolnya! : ) tapi jadi tau banyak, semacam orientasi mungkin maklum hari pertama. Entah mengapa lebih banyak mengobrol tentang perkembangan tempat penitipan anak, tapi pada akhirnya bisa juga ngobrol tentang “main-main” yang baik sama bayi itu gimana. Misal lebih baik menghindari kata “jangan”, bukan fokus pada kesalahan anak, tapi mengarahkannya untuk merasakan emosi yang semestinya. Juga bercerita bagaimana mengatasi jika ada balita yang nakalin temennya, suka nangis, suka teriak-teriak, atau pendiam.

Setelah ngobrol-ngobrol sebenarnya bukan makin tercerahkan sih. Malah jadi canggung, inginnya adalah natural berkecimpung di dunia per-bayi-an. Tapi lumayan, yang jelas masih takjub sama yang namanya bayi. Begitu mudah ia tertawa, begitu mudah membahagiakan hatinya : )

Bayi berinteraksi dengan bayi lainnya, bayi menggunakan bahasa bayi sudah memiliki ego untuk bermain, memberi, dihargai, dan sudah bisa merasakan bahwa mereka disayangi dan diajak bicara. Bayi hanya butuh empati, kita harus menghargai bayi itu sebagai seorang manusia yang memang baru di dunia ini. Bukan lantas karena dia kecil dan kita bisa melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Ia memahami kok walau muka-nya bengong-bengong.

Pas banget hari ini kuliah belajar tentang insight. Insight sesuatu yang tidak bisa dipelajari dan ilmunya itu ya memang sulit dijelaskan bagaimana bisa dapet. Insight kan didapet dari data, dan ada sebuah proses yang membawamu menuju insight itu, bla bla bla dosen terus menjelaskan untuk membuat kami mengerti apa itu insight. In the other side, sambil mencerna kata2 mbakdosen mencoba ngerti apa itu insight. aku melihat tembok kelas tepat disebelahku, temboknya kotor, bekas mahasiswa-mahasiswa lewat dan temboknya jadi tergores tas2 atau baju anak-anak kelas yang lewat karena celahnya sempit jadi tidak mungkin jika seseorang yang lewat tidak menggesek tembok. Mungkin tembok yang kotor ini tidak diperhatikan, tapi jika dipandang memang jelek. Apakah ini tidak terpikirkan saat gedung ini dibangun?
Bagaimana supaya kelas nyaman orang lalu lalang. Tidak kah mereka merasakan ini atau meninjau ini sebelum membangun atau menata interior kelas? Tidak kah mereka ber-empati dulu merasakan bagaimana orang akan lalu lalang? Ya empati, apakah insight itu empati ya? ya kayaknya sih jangan2 insight itu bagaimana kita berempati? Apa aku tanya mbak dosen?

Dannnnn. lamunanku dipecahkan suara dosen lagi. dosen lalu bicara, “ya… apa ya… yang jelas kalau kalian tidak bisa membayangkan bagaimana insight itu, insight itu adalah empati”. Oke mbak dosen, i did it ya? Mungkin aku ngerti ya? dari tadi aku mbayangin kalo insight itu empati itu berarti tidak salah.

Efeknya makjleb banget buat aku, gara-gara itu aku jadi keinget bayi-bayi di tempat penitipan anak. Aku hari ini tidak pake empati dalam memahami anak-anak karena ketika berada di tempat penitipan sangat mendadak. Hari itu ada surat yang belum diurus, ada tugas yang belum dikerjakan, ada proposal yang mesti dibenahi. Dan saat sampai di tempat penitipan anak, kelelahan pikiran itu terbawa. Sehingga efeknya justru pada diri sendiri. Malahan justru bayi-bayi yang berempati lalu aku bisa merasakan empati mereka, sehingga kami bisa dekat. Sebelum pertemuan magang hari ini, aku sempat ke penitipan anak ini untuk perizinan magang. Sedikit banyak aku interaksi sama anak-anak dan begitu membahagiakan, begitu oke, karena hari itu mungkin aku pake empati, karena malam sebelumnya, aku melihat beberapa video notesdina, berawal dari sebuah blog yang bercerita tentang anak-anak. Di video itu aku jadi bisa merasakan sesuatu yang tak bisa dideskripsikan, yang aku baru tau hari ini bahwa itu adalah empati.

ini cuma omongan anak komunikasi. malu deh kalo dibaca anak psikologi apalagi yang suka menganalisis ^^

Mohon koreksinya ya.. : )

Sebuah postingan lama zaman dulu, dengan gaya bahasa semaunya.
Diselesaikan 18.35 | 2 April 2012 | at kost green house, Yk