Seminar Komunikasi Kaum Muda dan Permasalahan Bangsa

Postingan ini udah agak lama, tapi belum dipublish dan kayaknya seru juga dipublish. cekidot..

Hari ini saya ikut sebuah seminar dengan tema permasalahan bangsa dan komunikasi anak muda. Kebetulan isu ini lagi happening banget, karena emang anak muda lagi gencar-gencarnya membicarakan tentang pergerakan sosial pemuda. Baru-baru ini saya ikut acaranya anak Indonesian Future Leaders, jadi sedikit banyak seperti telah ikut menjadi bagian dari semangat mereka dalam masalah ini. Terus baru-baru ini ada tugas tentang ruang publik, juga saya mengambil tema ini. So, saya tadi sangat antusias mendengar apa yang dipikirkan Ketua BEM-Ketua BEM dari 3 universitas dan seorang dosen HI tentang masalah ini.

Ada hal yang bikin saya tertohok tadi di seminar. Tiba-tiba seorang teman datang menghampiri tempat duduk kami untuk ngobrol. Ngeliat saya mencatat ini itu tentang yang dikatakan si pembicara, temen saya bilang gini, “ngapain nyatet-nyatet? Oh peduli sama Indonesia?”. Saya terdiam sambil tersenyum kecut karena bingung mau jawab apa. Antara nggak tau mau jawab apa, sama terkesima karena mungkin yang dikatakan teman saya  tentang saya ini benar dan saya mikir, “oh iya ya, apa saya peduli dengan Indonesia? Dan Kenapa saya harus peduli?” Saya jadi mikir, kenapa kok akhir-akhir ini saya jadi peduli masalah beginian. Kenapa saya rajin banget nyatet tentang problem dan solusi yang bisa dilakukan buat Indonesia kedepan. Kenapa saya peduli sama masalah Indonesia sementara temen saya dan saya tahu bahwa saya bukan siapa-siapa –tidak seperti pembicara di depan yang bisa menginspirasi orang misalnya- dan apa emang yang bisa saya lakuin kalo emang saya peduli? Saya belum bisa ngejawab pertanyaan temen saya tadi, tapi setelah di rumah kira-kira begini jawabannya. Saya ngedengerin, dan seneng banget kalo ada anak muda yang ngelakuin sesuatu yang baik bagi orang sekitar. Niat mereka mulia banget, pengen Indonesia jadi lebih baik. Tapi itu bisa mereka lakukan bagi mereka yang telah melakukan sesuatu atau ketika mereka emang udah punya peran bagi orang-orang sekitar. Contohnya Ketua BEM itu, dia bisa ngasih sesuatu bagi orang lain melalui kata-katanya. Nah kalo ngeliat diri saya sekarang, saya belum ngelakuin apa-apa, saya bukan siapa-siapa, saya tidak tergabung dalam organisasi jadi saya tidak punya peran, dsb pokoknya saya hanya mahasiswa biasa. Tapi apa saya salah untuk peduli dengan masalah seperti ini? Saya nggak bisa bicara banyak mengenai Indonesia karena saat ini ilmu saya masih cetek. Tapi boleh nggak saya peduli sama masyarakat sekitar? Karena memang saya sadar baru-baru ini, dan ingin mencari cara memahami mereka para orang yang perlu dibantu, yang mungkin saja saat saya udah punya kapasitas, saya bisa membantu mereka.
Saya tidak peduli dengan Indonesia. Artinya saya tidak akan menangis jika media terus meliput tentang kebobrokan Indonesia, saya tidak akan memikirkan terus-terusan jika Indonesia mau dibilang apa sama negara luar, ketika hal itu tidak terjangkau oleh tangan saya, saya mungkin tidak akan terlalu peduli karena peduli pun saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya hanya peduli ketika suatu saat itu memungkinkan bagi saya untuk melakukan sesuatu. Saya hanya peduli dengan orang-orang Indonesia. Manusia-manusianya. Tapi kepedulian saya pasti nggak ada artinya kalo saya nggak ngelakuin sesuatu. Sedangkan tanggung jawab mahasiswa –seperti yang dibilang dalam seminar- adalah intelektualitas, yang seharusnya bisa kita berikan ke masyarakat. Itu jadi refleksi diri bagi saya –pertanyaan temen saya tadi- bahwa saya bukan siapa-siapa. Bahwa saya harus belajar dan ikut organisasi lagi, dalam artian sebagai mahasiswa paling tidak ada yang bisa saya beri dalam prosesnya dan setelah lepas dari jabatan mahasiswa. Tidak mau saya lulus, hanya untuk mendapat uang dari bekerja. Sementara banyak orang lain, yang masih perlu dibenahi dari segi pendidikan, moral, agama, dsb. Saya tinggal di Indonesia, saya mungkin boleh punya mimpi besar tentang Indonesia.

Senyum Community : New Chance to Share

Ternyata ada di Jogja, sebuah komunitas sosial yang untuk saat ini tujuannya adalah memberdayakan anak-anak panti, dan komunitas ini juga berdiri atas dukungan dari orang-orang yang memberikan donasi kepada mereka. Saya tertarik dan mencoba bergabung menjadi divisi Creative Marketing untuk program Senyum Youth Camp. Cukup menyenangkan menemui teman-teman baru yang sangaaaat humble. Saya yakin mereka semua hebat, dan pengalamannya udah banyak banget, tapi tetep aja mereka kelihatan humble :3

Sekarang saya sedang bertugas, semoga tidak mengecewakan. Sesuai passion saya di bidang ini, saya mencoba dulu memberikan apa yang saya punya. Saya menyadari bahwa komunitas ini dilahirkan atas dasar rasa ingin berbagi, jadi alon-alon asal kelakon saja. Untuk langkah awal saya memutuskan mencoba memahami dulu seluk beluk Senyum Community. Sambil berharap semoga saya akan mengerti lebih banyak setelah berkumpul lebih banyak. Dan berharap setelah Senyum Youth Camp berakhir masih dibolehkan melakukan banyak hal di sini hehehe *ngarep*. aamiin. Hahaha

Ini adalah poster donasi untuk Senyum Youth Camp. Inisiative program dari Senyum Community agar anak-anak panti asuhan berani jadi pemimpin. Kadang mereka berbakat namun akses mereka sedikit karena tidak ada kesempatan atau karena tidak ada dana. Sepertinya kami memang butuh dukungan dana untuk bisa tetap menjalankan pemberdayaan bagi anak-anak panti. Silahkan lihat, dan kalau berminat silahkan untuk mendonasikan dananya :~)